Pasar  Uang

 

Pasar uang adalah suatu kelompok pasar di mana instrumen kredit jangka pendek, yang umumnya berkualitas tinggi diperjualbelikan. Jangka waktu instrumen pasar uang biasanya jatuh tempo dalam waktu 1 tahun atau kurang.

 

Pasar uang bersama pasar modal sering kali diartikan sama, padahal kedua jenis pasar tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.

 

Pasar uang adalah :

  1. pasar yang menyediakan sarana peng­alokasian dan pinjaman dana jangka pendek, karena itu pasar uang merupakan pasar likuiditas primer.
  2. Transaksi dalam pasar uang dilakukan dengan menggunakan sarana telekomunikasi. Sehingga pasar uang ini sering pula disebut dengan pasar abstrak karena pelaksanaan transaksi tidak dilakukan di tempat tertentu sebagaimana halnya dengan bursa efek pada pasar modal.
  3. Berkaitan dengan itu pasar uang merupakan pasar yang tidak terorganisasi (unorganized market)

 

Pasar modal adalah :

  1. Pasar modal berkaitan dengan surat-surat berharga yang berjangka panjang.

Dana yang diperjualbelikan dalam pasar modal adalah dana yang bersifat permanen atau semi permanen.

  1. Pasar modal berbeda dengan pasar uang dalam hal tempat pelaksanaan transaksi. Pasar modal memiliki tempat transaksi tertentu yang disebut bursa efek.
  2. Pasar modal adalah pasar yang terorganisasi (organized market) karena di samping memiliki tempat transaksi khusus, pelaksanaannya juga diatur dan diawasi oleh otoritas pasar modal yaitu Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal).

 

Persamaan kedua pasar tersebut adalah keduanya merupakan sarana bagi investor dalam melakukan investasi, di samping sebagai sarana mobilisasi dana bagi pihak yang membutuhkan dana. Dengan kata lain pasar uang dan pasar modal merupakan sarana investasi dan mobilisasi dana.

 

FUNGSI PASAR UANG

Pasar uang pada prinsipnya merupakan sarana alternatif bagi lembaga-lembaga keuangan, perusahaan-perusahaan nonkeuangan, dan peserta-peserta lainnya baik dalam memenuhi kebutuhan dana jangka pendeknya maupun dalam rangka melakukan penempatan dana atas kelebihan likuiditasnya. Pasar uang dimaksudkan, secara tidak langsung, sebagai sarana pengendali moneter oleh penguasa moneter dalam melaksanakan operasi pasar terbuka. Pelaksanaan operasi pasar terbuka oleh Bank Indonesia dilakukan dengan menggunakan Sertifikat Bank Indonesia atau SBI dan Surat Berharga Pasar Uang atau SBPU. SBI sebagai instrumen dalam melakukan operasi pasar terbuka digunakan untuk tujuan kontraksi moneter. Sementara SBPU berfungsi sebagai instrumen ekspansi moneter.

 

PESERTA PASAR UANG

Pihak yang terlibat dalam transaksi pasar uang baik sebagai investor maupun sebagai peminjam antara lain adalah:

 

a.       Lembaga keuangan

  1. Perusahaan besar          .
  2. Lembaga pemerintah
  3. Individu-individu.

 

KARAKTERISTIK PASAR UANG

Pasar uang mempertemukan pihak yang memiliki surplus dana dengan pihak yang mengalami defisit. Transaksi dalam pasar uang sebagian besar bersifat jangka pen dek. Di satu sisi pasar uang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan dana jangka pendek perusahaan, lembaga keuangan, dan pemerintah, mulai dari overnight sampai dengan jangka waktu jatuh tempo satu tahun. Pada waktu yang sama pasar uang menyediakan outlet investasi bagi pihak surplus dana jangka pendek yang ingin memperoleh pendapatan atas dana yang belum terpakai.

 

KEBUTUHAN ADANYA  PASAR  UANG

Alasannya karena banyak perusahaan serta individu yang mengalami arus kas yang tidak sesuai antara inflows dan outflows. Perusahaan pada saat kasnya mengalami defisit, sementara dapat memasuki pasar uang sebagai peminjam dengan mencari lembaga keuangan atau pihak lain yang memiliki surplus dana. Selanjutnya pada saat mengalami surplus dana perusahaan menjadi kreditor dalam pasar uang untuk memperoleh pendapatan daripada membiarkan dananya tak terpakai atau idle.

 

DEBITUR DAN  KREDITUR  DALAM  PASAR UANG

Bank umum yang beroperasi di pasar uang akan meminjam dana secara agresif melalui sertifikat deposito dan instrumen utang jangka pendek lainnya. Sementara pada waktu yang sama bank tersebut memberi pinjaman jangka pendek kepada perusahaan-perusahaan yang sedang mengalami kekurangan dana sementara. Lembaga-lembaga yang biasanya ikut bermain di dua sisi pasar uang adalah bank-bank besar, lembaga-lembaga keuangan nonbank, lembaga-lembaga pemerintah. Bahkan bank-bank sentral dapat menjadi pemasok dana yang agresif di pasar uang dan mengambil posisi sebaliknya pada esok harinya.

 

TUJUAN  PASAR UANG  BAGI  INVESTOR

Investor di pasar uang terutama mencari keamanan dan likuiditas di samping peluang untuk memperoleh pendapatan bunga. Hal tersebut karena dana yang diinvestasikan di pasar uang adalah kelebihan dana sementara dan biasanya dibutuhkan dalam waktu singkat untuk membayar pajak,  gaji, dividen dan sebagainya. Dengan alasan ini, maka investor pasar uang sangat sensitif terhadap risiko.

 

JENIS-JENIS RISIKO INVESTASI DI PASAR KEUANGAN

Risiko yang mungkin dihadapi investor dalam kegiatan investasi di pasar keuangan antara lain sebagai berikut:

 

Resiko yang ada :

 

1.      Risiko pasar (interest-rate risk). Semua surat berharga termasuk instrumen pasar uang memiliki risiko yang disebut market risk atau kadang-kadang juga disebut interest rate risk,; yaitu risiko yang berkaitan dengan turunnya harga surat berharga (dan tingkat bunga naik) mengakibatkan investor mengalami capital loss.

 

2.      Risiko reinvestment. Dalam praktiknya bukan saja harga surat berharga yang dapat jahlh tetapi juga tingkat bunga. Turunnya harga sekuritas pada gilirannya menyebabkan timbulnya risiko investor yang disebut reinvestment risk; yaitu risiko terhadap penghasilan suatu aset finansial yang harus di-reinvest dalam aset yang berpendapatan rendah.

 

3.      Risiko gagal bayar. Risiko gagal bayar terjadi akibat tidak mampunya peminjam (debitor) memenuhi kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan. Risiko ini juga disebut sebagai default risk atau credit risk.

 

4.      Risiko inflasi. Pemberi pinjaman menghadapi kemungkinan naiknya harga-harga barang dan jasa jasa yang akan menurunkan daya beli atas pendapatan yang diterimanya. Oleh karena itu risiko inflasi sering juga disebut dengan risiko daya beli (purchasing power risk).

 

5.      Risiko valuta (currency or exchange rate risk). Investor internasional dihadapkan pada risiko mata uang, yaitu kerugian yang terjadi akibat adanya perubahan yang tidak menguntungkan terhadap kurs mata uang asing.

 

6.      Risiko politik. Risiko ini berkaitan dengan kemungkinan adanya perubahan ketentuan perundangan yang berakibat turunnya pendapatan yang diperkirakan dari suatu investasi atau bahkan akan terjadi kerugian total dari modal yang diinvestasikan.

 

7.      Marketability atau Liquidity risk. Risiko dapat terjadi apabila instrunien pasar uang yang dimiliki sulit untuk dijual kembali sebelum jatuh tempo. Sulitnya menjual kembali surat berharga  tersebut memberi risiko untuk tidak dapat mencairkan kembali instrumen pasar uang dalam bentuk uang tunai pada saat membutuhkan likuiditas sebelum jatuh tempo.

 

INSTRUMEN PASAR UANG

Jenis instrumen atau surat-surat berharga yang diperjualbelikan dalam pasar uang di berbagai negara dan diperdagangkan secara internasional antara lain meliputi:

 

a). Treasury Bills (T-Bills)

b). Commercial Paper (CP)

c). Negotiable Certificate of Deposits (CDs)

d). Banker's Acceptance (BA)

e). Bill of Exchange

f). Pepurchase Agreement (Repos)

 

Sedangkan instrumen yang diperdagangkan dalam pasar uang di Indonesia saat ini antara lain adalah:

 

a. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)

b. Surat Berharga Pasar Uang (SBPU)

c. Sertifikat Deposito

d. Commercial Paper

e. Call Money

f. Repurchase Agreement

g. Banker's Acceptance

h. Promissory Notes

 

a). Treasury  Bills

Treasury Bills atau biasanya disingkat T -Bills merupakan.instrumen utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau Bank Sentral atas tunjuk dengan jumlah tertentu yang akan dibayarkan kepada pemegang pada tanggal yang telah ditetapkan. Instrumen ini umumnya berjangka waktujatuh tempo satu tahun atau kurang. T-Bills dianggap sebagai instrumen yang sangat aman karena diterbitkan oleh pemerintah atau biasanya Bank Sentral. Oleh karena itu, T-Bills sangat mudah diperjualbelikan dan disukai oleh perusahaan-perusahaan, terutama lembaga-lembaga keuangan untuk dijadikan sebagai cadangan likuiditas sekunder yang memberikan hasil. Pada prinsipnya T-Bills ini dapat disamakan dengan SB1 di Indonesia yang pertama kali diterbitkan Bank Indonesia pada tahun 1970  dan hanya sempat beredar selama kurang lebih satu tahun kemudian terhenti sampai diterbitkan kembali pada tahun 1984. T-Bills tidak memberikan bunga secara langsung tetapi dijual atas dasar diskonto, dengan jumlah diskonto ditetapkan melalui proses pelelangan. Oleh karena itu, tingkat bunga sesungguhnya yang diperoleh tergantung pada jumlah diskonto.

 

Contoh: Permintaan rata-rata dalam suatu pelelangan T-Bills untuk jangka waktu 182 hari adalah US $94,13 per $100 nilai nominal. Jumlah hari dalam setahun 360 hari. Maka discount rate adalah sebagai berikut:

 

Karena T-Bills ini dibeli secara diskonto, maka penghasilan efektifnya lebih tinggi daripada penghasilan nominalnya yang dapat dihitung sebagai berikut:

 

T-Bills ini dapat dijadikan sebagai sarana investasi di samping untuk cadangan likuiditas karena instrumen pasar uang ini:

 

a. tidak berisiko

b. memiliki pasar sekunder

c. risiko terjadi kerugian sangat kecil.

 

Investor utama dalam T-Bills ini antara lain :

Bank Sentral, bank-bank umum, mutual funds, BUMN, lembaga-lembaga keuangan nonbank, perusahaan­perusahaan, dan badan pemerintah negara lain, dan individu.

 

b). Commercial Paper

Commercial Paper (CP) pada dasarnya merupakan promes yang tidak disertai dengan jaminan (unsecured promissory notes), diterbitkan oleh perusahaan untuk memperoleh dana jangka pendek dan dijual kepada investor dalam pasar uang. Dengan demikian CP merupakan promes di mana penerbit berjanji akan membayar sejumlah tertentu uang pada saat jatuh tempo. Jangka waktu jatuh tempo CP ini berkisar mulai dari beberapa hari sampai 270 hari. Penjualan CP dilakukan umumnya dengan sistem diskonto, namun beberapa di antaranya menggunakan bunga sebagaimana halnya dengan kredit. Meskipun dalam praktiknya penerbitan CP tidak dengan jaminan, namun dalam pelaksanaannya seringkali CP diterbitkan dengan backup fasilitas credit line dari bank yang jumlahnya mendekati atau sama dengan nilai CP yang diterbitkan, di samping jaminan kemampuan likuditas dan kemampuan memperoleh laba perusahaan. Penerbitan CP dapat dilakukan secara langsung (direct placement) kepada investor ataupun secara tidak langsung (indirect placement) dengan menggunakan jasa perantara.

Proses penerbitan CP berbeda dengan penerbitan surat berharga lainnya. CP diterbitkan tidak menggunakan underwriter atau penjamin emisi karena mekanisme penjualannya pada prinsipnya dapat dilakukan secara langsung kepada investor. Namun demikian banyak penerbit karena alasan tertentu menggunakan arranger. Arranger ini umumnya adalah bank-bank umum yang berfungsi sebagai perantara antara investor dengan penerbit. Arranger berbeda dengan penjamin emisi dalam hal emisi efek. Arranger sama sekali tidak bertanggung jawab atas tidak terjualnya CP yang diterbitkan. Tugas utama yang harus dilakukan adalah menawarkan CP kepada investor yang biasanya adalah nasabah-nasabahnya. Mekanisme penerbitan CP ini dapat terjadi sebagai berikut; Perusahaan yang membutuhkan dana menghubungi bank yang biasa bertindak sebagai arranger dan menyebutkan jumlah dana yang dibutuhkan. Arranger inilah yang berusaha mencari investor. Kemudian perusahaan yang bersangkutan menerbitkan CP sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan. Arranger tidak memiliki tanggung jawab apa pun terhadap investor. Seluruh risiko yang terjadi atas penerbitan C'P, merupakan risiko dan tanggung jawab investor sendiri. '

Selanjutnya, di samping bank dapat berfungsi sebagai arranger, bank dapat pula bertindak sebagai agen pembayar (paying agent).

 

Kelebihan commercial paper bagi penerbit (issuer) dan investor antara lain :

 

1. Penerbit

a.  Tingkat bunga CP lebih rendah daripada prinae rate; yaitu tingkat bunga kredit yang dikenakan perbankan kepada nasabah utamanya, sehingga biaya dana akan menjadi lebih murah.

b.  Tidak perlu menyediakan jaminan.

c. Penerbitannya relatif lebih mudah karena pada prinsipnya hanya melibatkan penerbit dan inves­tor.

d. Jangka waktu jatuh temponya lebih fleksibel, dapat diperpanjang atas persetujuan investor.

 

2. Investor

a.  CP menawarkan penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan, misalnya, Sertifikat Deposito, Deposito Berjangka atau Treasury Bills.

b.  Dapat dijual kembali (didiskontokan) tanpa perlu menunggu jatuh temponya.

c.  Tingkat keamanannya relatif tinggi karena penerbit C'P umumnya perusahaan dengan rating yang tinggi.

 

Kelemahan CP dilihat dari kepentingan investor dan issuer antara lain  :

a. Bagi investor CP merupakan instrumen yang tidak disertai dengan jaminan (unsecured prom­issory notes)

b. Kemungkinan issuer melakukan rekayasa laporan keuangan untuk memperlihatkan keadaan likuiditas dan kemampuan perolehan labanya

c. Bagi perusahaan penerbit, CP merupakan sumber dana jangka pendek sehingga perusahaan kurang leluasa untuk dijadikan sebagai modal investasi.

 

c). Sertifikat Deposito

Sertifikat deposito atau negotiable certificate of deposit, sering disingkat CD, pada prinsipnya adalah instrumen keuangan yang diterbitkan oleh suatu bank atas unjuk dan dinyatakan dalam suatu jumlah, jangka waktu dan tingkat bunga tertentu. Sertifikat deposito adalah deposito berjangka yang bukti simpanannya dapat diperdagangkan. Ciri pokok yang membedakannya dengan deposito berjangka terletak pada sifat yang dapat dipindahtangankan atau diperjualbelikan sebelum jangka waktu jatuh temponya melalui lembaga-lembaga keuangan lainnya misalnya discount houses atau merchant bank. Di samping itu, deposito berjangka selalu diterbitkan dengan atas nama sementara CD atas unjuk. Di Indonesia, CD diterbitkan oleh bank-bank umum atas dasar diskonto (discounted basis). Perhitungan diskonto CD oleh bank-bank di Indonesia dengan rumus:

 

Contoh: Nilai nominal suatu CD yang akan jatuh tempo 90 hari adalah sebesar Rp10 juta dengan tingkat diskonto 10% p.a. Nilai tunai (proceeds) CD tersebut dapat dihitung dengan menggunakan formula true discount:

 

CD khususnya di Indonesia, penggunaannya relatif sangat terbatas dan dapat dikatakan kurang begitu populer dikalangan investor sebagai instrumen investasi. Pembeli utama CD adalah perusahaan non lembaga keuangan yang umumnya mendijadikan CD sebagai cadangan sekunder.

Konsep CD ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1961 oleh The First International City Bank of New York (sekarang Citibank) di pasar uang New York. Instrumen baru tersebut dapat diterima oleh dealer surat-surat berharga, dan sejak saat itu CD menjadi salah satu instrumen utama yang diperdagangkan di pasar uang New York. Selanjutnya, pada tahun 1966, Citibank kembali memperkenalkan London Dollar CD yang pada dasarnya merupakan instrumen Eurodol­lar yang didenominasi dalam US$ dan diterbitkan di London. Instrumen tersebut ternyata dapat diterima masyarakat keuangan di London sebagaimana halnya dengan di New York. Pada akhir dekade 1960-an, bank-bank di Inggris mengikuti konsep CD Citibank dengan menerbitkan Sterling CD yang akhirnya juga menjadi instrumen pasar uang yang cukup diminati.

Ilustrasi perhitungan dalam transaksi jual-beli London Dollar CD dan Sterling CD di pasar uang London sebagai berikut:

 

Sterling Certificate of Deposit

Perhitungan dalam transaksi jual beli Sterling CD di pasar uang London digunakan rumus berikut:

Contoh: GBP 1,000,000 CD issued at 12,5% for 120 days is bought 11% yield to maturity with 62 days to run to maturity.

 

Selanjutnya, pada saat jatuh tempo pembeli Sterling CD dengan nilai nominal GBP 1,000,000 akan menerima:

Apabila CD dibeli dengan harga GBP 1,021,999.89, maka pembeli akan memperoleh

= GBP 1,041,095.89 - GBP 1,021,999.89 = GBP 19,096

 

Maka investment yield adalah:

London Dollar CD

Perhitungan transaksi London Dollar CD menggunakan rumus:

 

Contoh: US $5,000,000 CD issued at 7.25% for 60 days is bought at 7% yield to maturity with 21 days to run to maturity.

Sebagaimana telah disebutkan bahwa CD merupakan instrumen keuangan yang dapat diperjualbelikan dalam pasar uang. Sehingga untuk melindungi pemegangnya diperhikan keseragaman bentuk, isi, dan redaksinya. Sesuai ketentuan Bank Indonesia warkat CD harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

 

1. Pada halaman depan sekurang-kurangnya dicantumkan:

  1. Kata-kata "Sertifikat Deposito" dan "Dapat Diperdagangkan" dalam ukuran besar sehingga mudah terlihat.
  2. Nomor seri dan nomor urut.
  3. Nama dan tempat kedudukan penerbit.
  4. Nilai nominal dalam rupiah.
  5. Tanggal dan tempat penerbitan.
  6. Tingkat bunga atau diskonto.
  7. Pernyataan bahwa penerbit mengikat diri untuk membayar sejumlah uang tertentu dalam rupiah pada tanggal dan tempat tertentu.
  8. Tanda tangan direksi atau pejabat yang berwenang dari penerbit.
  9. Tanda tangan pejabat dari kantor cabang di tempat CD diterbitkan.

 

2. Pada halaman belakang dicantumkan klausula yang sekurang-kurangnya menyatakan bahwa :

  1. Penerbit menjamin sertifikat deposito dengan seluruh harta dan piutangnya.
  2. CD dapat diperjualbelikan dan dapat dipindahtangankan dengan cara penyerahan.
  3. Pelunasan dilakukan pada tanggal jatuh tempo atau sesudahnya dengan menyerahkan kembali warkat sertifikat deposito.

 

d). Banker's Acceptance (BA)

BA merupakan salah satu instrumen pasar uang yang telah dikenal sejak lama. Pada mulanya BA tercipta melalui perdagangan luar negeri.  BA dapat dipindah­tangankan sebagaimana halnya dengan commercial paper. BA yang dapat dijadikan sebagai instrumen pasar uang. adalah time draft (wesel berjangka) yang ditarik oleh seorang eksportir atau importir atas suatu bank untuk membayar sejumlah barang atau untuk membeli valuta asing. Apabila bank menyetujui wesel tersebut, bank akan menstempel dengan kata "accepted" di atas wesel tersebut dan memprosesnya.

Aksep ini merupakan instrumen pasar uang yang berkualitas tinggi dan sangat aktif diperdagangkan antar lembaga-lembaga keuangan, perusahaan industri, dealer surat-surat berharga sebagai investasi yang berkualitas tinggi dan sangat mudah diuangkan. Aksep digunakan dalam perdagangan ekspor-impor karena banyak eksportir yang tidak pasti dan tidak yakin betul terhadap credit standing importir yang dikirimi barang. Eksportir sangat tergantung pada pembiayaan aksep­tasi oleh bank domestik atau suatu bank asing. Dengan demikian aksep adalah instrumen keuangan yang dirancang untuk mengalihkan risiko perdagangan internasional kepada pihak ketiga yang akan mengambil risiko tersebut dengan biaya tertentu. Bank-bank bersedia mengambil risiko tersebut karena ia memiliki keahlian dalam menilai risiko kredit dan menyebarkan risiko tersebut dalam berbagai pinjaman.

 

Proses Teciptanya Banker's Acceptance

Perdagangan akseptasi bank biasanya diawali ketika importir meminta fasilitas kredit (credit line) untuk membayar barang yang diimpor dari luar negeri. Begitu permohonan credit line-nya disetujui, bank kemudian menerbitkan L/C untuk keuntungan pihak eksportir. L/C memberikan hak untuk menarik time draft (wesel berjangka), bukan sight draft (wesel unjuk) yang dibayarkan segera atas penyerahan, eksportir harus menunggu sampai wesel tersebut jatuh tempo baru kemudian dibayarkan. Dengan penundaan pembayaran tersebut sampai wesel jatuh tempo umumnya tidak dilakukan oleh eksportir, karena ia harus membayar gaji karyawan, pajak dan kewajiban lainnya.

Di samping itu, time draft umumnya dibayarkan dengan mata uang bank penerbit L/C, dan mata uang ini kemungkinan tidak dibutuhkan oleh eksportir yang bersangkutan. Dengan alasan tersebut kemudian eksportir mendiskontokan aksep tersebut sebelum jatuh temponya melalui banknya (principal bank). Eksportir kemudian menerima pembayaran dalam mata uang lokal dan menghindari risiko perdagangan (trading risk) dalam valuta asing. Bank luar negeri yang telah membeli atau men­diskonto aksep dari eksportir meneruskannya atau mengirimkannya (bersama dokumen pengiriman) kepada bank penerbit L/C. Kemudian issuing bank memeriksa time draft dan dokumen-dokumen pendukung lainnya, dan memeriksa apakah sudah ditulis dan dilengkapi sebagaimana seharusnya, lalu menstempelnya dengan kata "accepted" di atas wesel tersebut. Atas dasar kejadian ini maka telah terciptalah aksep bank (banker's acceptance) dan bank yang mengaksep (accepting bank) mengakui memiliki kewajiban yang harus dibayar penuh pada saat jatuh tempo. Seringkali issuing bank sendiri yang mendiskonto aksep tersebut dari bank luar negeri. Aksep tersebut dapat saja dipegang sebagai aset oleh issuing bank atau mendiskontokannya kepada pihak lain (dealer). Sementara itu, dokumen pengapalan barang, yang merupakan lampiran wesel (sekarang telah menjadi aksep bank) diserahkan kepada importir atas dasar kepercayaan sehingga memungkinkan importir mengambil barangnya kemudian memasarkannya. Apabila issuing bank mendiskontokan aksep tersebut maka pada saat aksep jatuh tempo, pemegang/pemilik aksep terakhir menyerahkannya kepada issuing bank sebagai accepting bank untuk pembayarannya.

 

Kelebihan banker's acceptance adalah mengurangi risiko perdagangan bagi importir, karena importir menerima garansi dari bank untuk pembayaran atas barang yang diimpornya. Dengan demikian memindahkan risiko importir kepada accepting bank dan eksportir dapat segera men­dapatkan dana dengan cara mendiskontokan aksep bank sebelum jatuh temponya.

Dari ilustrasi tersebut di atas dapat dilihat bahwa ketiga pihak dalam transaksi tersebut, eksportir, importir, dan issuing bank, mendapatkan keuntungan dari metode pembiayaan perdagangan inter­nasional ini sebagai berikut:

 

a.       eksportir dapat menerima uangnya segera tanpa penundaan.

b.      importir dapat menunda pembayarannya sesuai dengan jangka waktu credit line yang disepakati dengan bank.

c.       issuing bank yang memegang banker's acceptance (didiskonto dari eksportir) merupakan instrumen keuangan yang sangat likuid yang dapat dijual sebelum jatuh tempo melalui dealer bila membutuhkan likuiditas.

 

Namun demikian terdapat biaya yang berkaitan dengan semua keuntungan di atas tersebut. Pembayaran discount fee yang dikenakan dari nilai nominal banker's acceptance pada saat didiskontokan sebelum jatuh tempo. Accepting bank mendapatkan komisi yang mungkin dibayar baik oleh eksportir atau importir sebagai tambahan fee dari credit line yang diterima importir.

Jangka waktu jatuh tempo BA berkisar antara 30 hari sampai 180 hari. Umumnya BAjatuh tempo dalam waktu 90 hari. Dari sisi bank yang melakukan akseptasi, prosedur ini memberikan cara menarik untuk membantu nasabah memenuhi kebutuhan kredit jangka pendeknya.

Untuk menghitung transaksi jual beli BA dengan cara diskonto dapat menggunakan rumus berikut:

Contoh: Banker's Acceptance dengan nilai Rp 100 juta yang jatuh tempo I Desember 1998, didiskonto pada tanggal 10 Oktober 1998 dengan discount rate 10%. Jumlah hari diskonto dari 10 Oktober 1998 - I Desember 1998 = 52 hari.

Dari contoh di atas dapat dihitung diskonto BA tersebut dengan mengaplikasikan formula yang tersedia.

Proceeds dari Bankers Acceptance tersebut adalah:

 

Proceeds = Rp 100.000.000 - Rp 1.424.657,53 = Rp 98.575.3 )42,47

 

e). Bill Of Exchange

Bill of exchange atau wesel adalah suatu perintah tertulis tak bersyarat yang ditujukan oleh seseorang kepada pihak lainnya untuk membayar sejumlah uang pada saat diperlihatkan atau pada tanggal tertentu kepada penarik atau order atau pembawa.

Surat wesel harus berisikan hal-hal sebagai berikut:

 

a. Perintah tak bersyarat untuk membayar sejumlah uang tertentu

b. Nama orang yang harus membayar (tertarik atau pembayar)

c. Penetapan hari bayarnya

d. Penetapan tempat di mana pembayaran harus dilakukan

e. Nama orang atau pihak lain yang ditunjuk untuk dilakukan pembayaran

f. Tanggal dan tempat surat wesel ditarik

g. Tanda tangan orang yang mengeluarkannya (penarik).

 

Instrumen ini telah digunakan sejak abad 17 di Inggris oleh penjual barang untuk penjualan kredit kepada langganannya. Dalam perkembangannya, bill of exchange untuk memperlancar perdagangan internasional atau ekspor-impor. Karena sifatnya yang likuid, artinya penjual dapat memperoleh pembayaran lebih awal sebelum wesel tersebut jatuh tempo dengan cara mendiskontokannya kepada bank-bank atau lembaga-lembaga keuangan lainnya sebagai investasi jangka pendek, maka instrumen ini sangat umum digunakan dalam perdagangan.  Wesel ini dapat diperjualbelikan secara diskonto.

Perhitungan diskonto (discount charge) dalam transaksi jual-beli wesel digunakan rumus berikut:

Contoh: Bill of exchange senilai Rp 10.000.000 yang jatuh temponya 87 hari dijual dengan 12% diskonto.

Proceeds Rp 10.000.000 - Rp 286.027,40 = Rp 9.713.972,6

 

f). Repurchase Agreement (REPO)

Repurchase agreement atau sering disingkat Repo adalah transaksi jual-beli surat-surat berharga disertai dengan perjanjian bahwa penjual akan membeli kembali surat-surat berharga yang dijual tersebut pada tanggal dan dengan harga yang telah ditetapkan lebih dahulu. Surat-surat berharga yang biasanya dijadikan sebagai instrumen dalam transaksi Repo adalah surat-surat berharga yang dapat diperjualbelikan secara diskonto, misalnya SBI, SBPU, CD, CP, atau T -Bills.

Untuk menjelaskan transaksi jual beli surat-surat berharga berdasarkan Repo dapat dibuat ilustrasi dengan instrumen SBI sebagai berikut:

 

Ilustrasi

  1. PT Bank Alpha pada tangga122 Agustus 1999 memiliki SBI dengan nilai nominal Rp 1 miliar yang jatuh temponya sisa 91 hari.
  2. Untuk memenuhi kebutuhan likuiditasnya, Bank Alpha akan meminjam dana sebesar Rp 950 juta untuk jangka waktu 30 hari dengan tingkat bunga 19%.
  3. Pada hari yang sama Bank Beta memiliki kelebihan likuiditas yang akan ditempatkan untuk jangka waktu 30 hari clan bersedia meminjamkan dengan tingkat bunga 19%p.a.

Selanjutnya, Bank Alpha dan Bank Beta melakukan negosiasi yang akhirnya menyetujui bahwa tingkat diskonto SBI yang dijaminkan 20,5%. Sehingga nilai tunai SBI Rp 950.720.960 yaitu:

Dari hasil negosiasi antara Bank Alpha dan Bank Beta pada ilustrasi di atas, maka kedua bank tersebut pada hari yang sama (22 Agustus 1999) melakukan Repurchase Agreement dengan kondisi sebagai berikut:

a.       Bank Beta meminjamkan Bank Alpha sejumlah Rp950.720.963 yaitu nilai tunai dari SBI yang disepakati dengan discount rate 20,5%.

b.      Bank Alpha selanjutnya menyerahkan SBI-nya kepada Bank Beta sebagai jaminan.

c.       Bank Alpha menyetujui untuk membayar kembali pinjamannya dari Bank Beta sebesar Rp950.720.963 setelah pada tangga121 September 1999 (30 hari) dengan tingkat bunga (Repo rate) 19% p.a. sebagaimana telah disepakati.

Jumlah yang harus dibayar kembali PT Bank Alpha kepada Bank Beta akibat diadakannya Repo adalah:

Pada saat Repo jatuh tempo yaitu tangga121 September 1999 :

  1. Bank Alpha harus membayar Bank Beta sebesar Rp 965.774.045.
  2. Bank Beta mengembalikan SBI kepada Bank Alpha (yang jahih temponya sisa 61 hari).
  3. Dengan demikian transaksi Repo selesai.

 

Mekanisme transaksi Repo pada ilustrasi di atas dapat diikuti pada Gambar berikut

 

 

Sertifikat Bank Indonesia

Sertifikat Bank Indonesia atau SBI pada prinsipnya adalah surat berharga atas unjuk dalam rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek dan diperjual­belikan dengan diskonto. SBI pertama kali diterbitkan pada tahun 1970 dengan sasaran utama untuk menciptakan suatu instrumen pasar uang yang hanya diperdagangkan antara bank-bank. Namun setelah deregulasi perbankan 1 Juni 1983, maka Bank Indonesia menerbitkan SBI sebagai instrumen kebijak­sanaan operasi pasar terbuka, terutama untuk tujuan kontraksi moneter.         SBI yang diterbitkan dan ditawarkan dengan sistem lelang.

 

Ilustrasi Transaksi Jual Beli SBI

Transaksi jual-beli SBI sebagaimana telah dijelaskan di atas dilakukan atas dasar diskonto. Faktor­faktor yang mempengaruhi harga SBI adalah besarnya discount rate dan jumlah hari jatuh tempo SBI yang bersangkutan. Rumus yang digunakan dalam menghitung nilai tunai (proceeds) SBI adalah true discount sebagai berikut:

Atau

Contoh 1:

Bank Bhakti membeli SBI dengan penyelesaian pembayaran pada hari yang sama (same day settlement).

Jumlah nilai nominal SBI = Rp 1.000.000.000 Tingkat diskonto = 15 %

Jumlah hari jatuh tempo = 30 hari

Nilai tunai SBI adalah sebagai berikut:

Kemudian pada hari yang sama PT Bank Bhakti menjual SBI tersebut dengan persyaratan sebagai berikut:

Penyelesaian transaksi   = Same day settlement

Discount rate    = 14,5%

Jumlah hari jatuh tempo = 30 hari

 

Nilai tunai SBI tersebut adalah:

Keuntungan PT Bank Bhakti dari transaksi jual-beli SBI tersebut adalah Rp988.060.930 - '; Rp987.654.321 = Rp406.609

Contoh 2: Dengan tetap mengambil ilustrasi pada Contoh 1 di atas di mana PT Bank Bhakti membeli SBI yang memiliki kondisi sebagai berikut:

 

Nilai Nominal   = Rp 1.000.000.000

Penyelesaian     = Same day

Discount rate    = 15%

Jumlah hari jatuh tempo = 30 hari

Harga SBI        = Rp987.654.321

 

Selanjutnya, PT Bank Bhakti menahan SBI tersebut selama 10 hari, kemudian menjualnya dengan E kondisi berikut:

 

Penyelesaian transaksi   = Same day settlement

Discount rate    = 15%

Jumlah hari jatuh tempo = 20 hari

Maka harga SBI tersebut akan berjumlah:

Kalkulasi keuntungan PT Bank Bhakti atas transaksi SBI yang dipegang selama 10 hari tersebut di atas adalah:

Harga jual SBI = Rp991.735.537

Harga beli SBI = Rp987.654.321

Keuntungan      = Rp4.08 L216

Hasil efektif yang diperoleh PT Bank Bhakti selama 10 hari tersebut adalah:

Di mana :

Ey = Hasil efektif (Effective yield)

Ptl  = Harga jual SBI

NO = Harga beli SBI

 

Dengan demikian Effective yield :

       = 0,1488 atau 14,88%.

 

Surat Berharga Pasar Uang

Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) adalah surat-surat berharga berjangka pendek yang dapat diperjualbelikan secara diskonto dengan Bank Indonesia atau lembaga diskonto yang ditunjuk oleh BI. SBPU diperkenalkan oleh BI sejak Februari 1985. Sama halnya dengan SBI yang di samping berfungsi sebagai piranti pasar uang juga menipakan instrumen operasi pasar terbuka dalam rangka ekspansi moneter oleh Bank Indonesia dengan menetapkan tingkat diskonto SBPU. Dalam hubungan ini pembelian SBPU oleh BI dilakukan sesuai dengan kebutuhan moneter. Ditinjau dari jenis transaksi dan warkatnya, SBPU dapat dibagi sebagai berikut:

 

1. Surat Sanggup (aksep/promes), dapat berupa:

a)      Surat sanggup yang diterbitkan oleh nasabah dalam rangka penerimaan kredit dari bank untuk membiayai kegiatan tertentu.

b)      Surat sanggup yang diterbitkan oleh bank dalam rangka pinjaman antarbank.

 

2. Surat Wesel, dapat berupa:

a)      Surat wesel yang ditarik oleh suatU pihak dan diaksep oleh pihak lain dalam rangka transaksi tertentu. Penarik dan atau tertarik adalah nasabah bank.

b)      Surat wesel yang ditarik oleh nasabah bank dan diaksep oleh bank dalam rangka pemberian kredit untuk membiayai kegiatan tertentu.

 

Call Money

Pasar uang antarbank atau sering juga disebut interbank call money market merupakan salah satu sarana penting untuk mendorong pengembangan pasar uang. Pasar uang antarbank pada dasarnya adalah kegiatan pinjam meminjam dana antara satu bank dengan bank lainnya untuk jarrgka waktu pendek. Caranya sbb :

 

Pasar Uang Antarbank Melalui Perhitungan Kliring

1. Transaksi melalui kliring penyerahan

Transaksi dalam pasar uang melalui kliring dilakukan dengan mekanisme berikut:

a)      Bank yang meminjamkan berkewajiban untuk:

-         menyerahkan nota kredit untuk peserta yang menerima pinjaman, sejumlah transaksi yang disetujui oleh pihak yang bersangkutan.

-         memperhitungkan nota kredit tersebut sebagai bagian dari nota kredit yang diserahkan dalam Miring penyerahan.

b)      Bank yang menerima pinjaman berkewajiban untuk:

-         menerbitkan surat sanggup (aksep/promes) yang ditujukan kepada bank pemberi pinjaman sesuai dengan transaksi yang disepakati.

-         memperhitungkan nota kredit yang diterimanya sebagai bagian dari nota kredit yang diterima dalam Miring penyerahan.

-         menyerahkan tembusan atau fotokopi surat sanggup (akseplpromes) yang bersangkutan kepada penyelenggara Miring.

c)      Pencairan kembali surat sanggup (aksep/promes) dilakukan dengan cara penerbitan nota debit (N/B) oleh peserta yang memberikan pinjaman sebagai warkat Miring, sedangkan surat sanggup (aksep/promes) yang bersangkutan dijadikan lampiran dan dimasukkan dalam sampul tertutup.

 

2. Transaksi yang diselenggarakan pada jadwal yang disediakan khusus untuk pasar uang antar­bank.

a)      Bank yang meminjamkan berkewajiban untuk:

·        menyerahkan nota kredit untuk peserta yang menerima pinjaman sejumlah transaksi yang disetujui oleh pihak yang bersangkutan.

·        mencantumkan jumlah transaksi tersebut pada bilyet saldo kliring sebagai komponen dana pasar uang yang diserahkan.

b)      Bank yang menerima pinjaman berkewajiban untuk:

·        menerbitkan surat sanggup (aksep/promes) yang ditujukan kepada bank pemberi pinjaman sesuai dengan transaksi yang disepakati.

·        mencantumkan jumlah transaksi tersebut pada bilyet saldo Miring sebagai komponen dana pasar uang yang diterima.

·        menyampaikan tembusan atau fotokopi surat sanggup (aksep/promes) yang bersangkutan kepada penyelenggara Miring.

c)      Pencairan kembali surat sanggup (aksep/promes) dilakukan dengan cara seperti tersebut pada butir c di atas.

 

Tata Cara Pinjam-meminjam di Luar Perhitungan Kliring

Jika hal pelaksanaan transaksi tersebut dilakukan di War Miring, maka:

a. Bank yang menerima pinjaman berkewajiban:

- Menerbitkan surat sanggup (aksep/promes) yang ditujukan kepada bank pemberi pinjaman sesuai dengan transaksi yang disepakati.

- Menyampaikan tembusan atau fotokopi surat sanggup (aksep/promes) yang bersangkutan kepada Bank Indonesia.

b. Bank yang memberikan pinjaman harus menyelesaikan transaksi tersebut menurut cara yang disepakati dengan pihak penerima pinjaman.

c. Pencairan kembali surat sanggup (aksep/promes) dapat dilakukan dengan cara seperti tersebut pada huruf c di atas.

 

 

Jakarta Interbank Offered Rate (Jibor)

Dengan berfungsinya Jibor secara efektif akan dapat terbentuk tingkat suku bunga yang dapat dijadikan sebagai referensi kalangan perbankan. Pembentukan Jibor ini melibatkan beberapa bank besar sebagai pelaku di pasar uang, seperti halnya dengan pembentukan Libor yang melibatkan London Clearing Banks khususnya bank-bank yang termasuk dalam kelompok the bigfour yaitu Barclays Bank, Midland Bank, National Westminster Bank, dan Lloyd Bank. Dengan konsep Jibor tersebut maka tingkat bunga antarbank di Jakarta akan mengacu pada kekuatan atau mekanisme pasar dan akan dapat dijadikan indikator bagi perkembangan bunga deposito dan patokan dalam penentuan tingkat bunga pinjaman.

Jibor ditentukan berdasarkan tingkat bunga deposito berjangka rata-rata dari sejumlah bank (bank pemerintah, bank swasta nasional, dan bank asing) yang dianggap sebagai refleksi tingkat bunga pasar di pasar uang Jakarta.