Pasar Modal Bag. II.

 

INSTRUMEN PASAR MODAL

Instrumen pasar modal pada prinsipnya adalah semua surat-surat berharga (efek) yang umum diperjualbelikan melalui pasar modal.

Efek adalah setiap surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, sekuritas kredit, tanda bukti utang, rights, warrants, opsi atau setiap derivatif dari efek atau setiap instrumen yang ditetapkan oleh Bapepam sebagai efek. Sifat efek yang diperdagangkan di pasar modal (Bursa Efek) biasanya berjangka waktu panjang. Instrumen yang paling umum diperjualbelikan melalui Bursa Efek di Indonesia saat ini adalah

  1. saham,
  2. obligasi,dan
  3. riqhts.

 

1. Saham

Saham atau stocks adalah surat bukti atau tanda kepemilikan bagian modal pada suatu perseroan terbatas. Dalam transaksi jual beli di Bursa Efek, saham atau sering pula disebut shares merupakan instrumen yang paling dominan diperdagangkan. Saham tersebut dapat diterbitkan dengan cara atas nama atau atas unjuk. Selanjutnya saham dapat dibedakan antara saham biasa (commonstocks) dan saham preferen (preferred stocks).

Perbedaan kedua jenis saham ini antara lain adalah sebagai berikut:

 

1.1 Saham biasa (common stocks)

a. Dividen dibayarkan sepanjang perusahaan memperoleh laba. b. Memiliki hak suara (one share one vote).

c. Hak memperoleh pembagian kekayaan perusahaan apabila bangkrut dilakukan setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi.

 

1.2 Saham preferen (preferred stocks)

a. Memiliki hak paling dahulu memperoleh dividen.

b. Tidak memiliki hak suara.

c. Dapat mempengaruhi manajemen perusahaan terutama dalam pencalonan pengurus.

d. Memiliki hak pembayaran maksimum sebesar nilai nominal saham lebih dahuhi setelah kreditor apabila perusahaan dilikuidasi. 

e. Kemungkinan dapat memperoleh tambahan dari pembagian laba perusahaan di samping penghasilan yang diterima secara tetap.

 

 

Kelemahan Dan Kelebihan Saham Preferen

Dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya, saham preferen memiliki kelemahan dan kelebihan antara lain sebagai berikut:

 

a. Lebih aman daripada saham biasa kerena memiliki hak klaim terhadap kekayaan perusahaan dan pembagian dividen terlebih dahulu.

b. Dibandingkan dengan investasi dalam bentuk pinjaman saham preferen kurang aman karena dividen secara hukum bukan kewajiban.

c. Pembayaran dividen secara tetap sulit dinaikkan.

d. Tidak memiliki hak voting.

e. Tidak memiliki jahih waktu.

f. Sulit diperjualbelikan dibanding saham biasa karena biasanya saham preferen jauh lebih sedikit.

g. Pada saat perusahaan di(ikuidasi yang dibayarkan hanyalah nilai nominalnya.

 

Jenis Saham Biasa

Saham biasa atau common stocks dapat dibedakan dalam berbagai jenis antara lain sebagai berikut :

 

a. Saham unggul (blue chips).

Yaitu saham yang diterbitkan oleh perusahaan besar dan terkenal yang lebih lama memperlihatkan kemampuannya memperoleh keuntungan dan pembayaran dividen. Biasanya perusahaan tersebut memiliki stabilitas usaha yang tinggi dan unggul dalam industri yang sejenis dan menjadi standar penilaian dalam mengukur perusahaan-perusahaan.

 

b. Growth stocks.

Yaitu saham yang dikeluarkan oleh perusahaan yang baik penjualannya, perolehan laba, dan pangsa pasarnya mengalami perkembangan yang sangat cepat dari rata-rata industri. Perusahaan seperti ini biasanya lebih agresif, berorientasi riset, dan menggunal<an kembali ke­untungannya untuk ekspansi. Dengan alasan tersebut perusahaan semacam ini (growth com­pany) lebih terkonsentrasi dalam membiayai ekspansinya dengan dana yang berasal dari laba ditahan, membayar dividen dalam jumlah relatif kecil, dan keuntungannya biasanya cendening rendah. Dalam kenyataannya banyak blue chips juga tergolong sebagai growth stocks.

 

c. Emerging growth stocks.

Yaitu saham yang dikeluarkan oleh perusahaan yang relatif lebih kecil dan memiliki daya tahan yang kuat meskipun dalam kondisi ekonomi yang kurang mendukung,

Selanjutnya memasuki tahap memperoleh laba dalam jumlah besar sebagai hasil peningkatan volume penjualan dan memperbesar profit marginn. Harga saham jenis ini biasanya sangat berfluktuasi.

 

d. Income stocks.

Yaitu saham yang membayar dividen melebihi jumlah rata-rata pendapatan. Saham ini di Amerika misalnva. umumnva saham ini banvak dibeli oleh investment fund dan dana pensiun.

 

e. Cyclicalstocks.

Yaitu saham perusahaan yang lceuntungannya beifluktuasi dan sangat dipengaruhi oleh siklus usaha. Apabila kondisi bisnis membailc, keuntungan perusahaan iluit membaik dan meningkat. Sejalan dengan itu, saham perusahaan mengalami kenaikan. Sebaliknya, nilai iklim usaha kembali memburuk, kegiatan usaha mengalami penurunan drastis dan keuntungannya pun akan memburuk pula. Di Amerilca serikat misalnya, industri yang dapat dikategorikan sebagai berfluktuasi antara lain ialah: semen, industri baja, mesin-mesin, timah, otomotif, konstruksi dan real estate.

 

f. Defensive stocks.

Yaitu saham perusahaan yang dapat bertahan dan tetap stabil dari suatu periode atau kondisi yang tidak menentu dan resesi. Perusahaan seperti ini memiliki pertumbuhan yang relatif lamban balk dalam kondisi hoomingdan akan tetap bertahan pada saat resesi ekonomi. Sebaliknya saham seperti ini sangat sensitifterhadap perubahan tingkat bunga. Harganya akan , turun apabila tingkat bunga naik dan naik apabila tingkat bunga mengalami penurunan. Oleh karena itu saham sebenarnya dapat pula digolongkan sebagai cvclical stocks. Saham-saham yang diterbitkan oleh perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan pelayanan masyarakat di Amerika Serikat, misalnya listrik, angkutan umum, air PAM, dan sebagainya, dikategorikan sebagai defensive stocks.

 

g. Speculative stocks.

Pada prinsipnya semua saham biasa yang c{iperdagangkan di Bursa Efek dapat digolongkan sebagai speculative stocks. Karena pada saat membeli saham kita tidak dapat memberi suatu jan,ji, tidak ada kepastian bahwa dana yang akhirnya kita terima pada waktu menjual saham tersebut akan bertambah atau bahkan berkurang atau sama dengan jumlah dana yang telah kita bayarkan.

 

2. Right

Hak yang diberikan kepada pemegang saham lama untul: membeli tambahan saham baru yang diterbitkan oleh suatu perusahaan disebut bukti right atau preemptive right. Penerbitan right di j pasar modal Indonesia juga disebut penawaran efek terbatas dengan hak membeli lebih dahulu.

Biasanya perusahaan menetapkan bahwa setiap pemegang saham lama diberi hak untuk membeli y sejumlah saham baru dengan suatu perbandingan yang ditentukan.

 

Misalnya:

Right issue dengan perbandingan 1:3 yang berarti setiap satu saham lama mempunyai hak tiga saham baru. Sebagai gambaran umum di bawah ini contoh sederhana perhitungan nilai suatu right dengan asumsi sebagai berikut:

 

Harga pasar saham = Rp 15.000/lembar. Harga right issue = Rp5.000 (biasanya lebih rendah daripada harga pasar. Perbandingan right issue = 1:3. Dengan demikian dapat dihitung:         ,

Harga teoretis saham baru =(Rp 15.000 + Rp5.000) : 4 = Rp5.000 Harga right = Rp 15.000 - Rp5.000 = Rp 10.000.

Selanjutnya apabila pemegang right menggunakan haknya tersebut maka akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp5.000 per sahamnya yaitu Rp 15.000 - Rp 10.000.

 

3. Obligasi

Obligasi atau bonds adalah bukti utang dari emiten yang dijamin oleh penanggung yang mengandung , janji pembayaran bunga atau janji lainnya serta pelunasan pokok pinjaman yang dilakukan pada tanggal jatuh tempo. Pertanyaan yang sering dikemukakan adalah kenapa melakukan investasi dalam obligasi? Ini adalah pertanyaan yang paling sering dipertanyakan oleh investor yang membandingkan tingkat bunga yang ditawarkan dalam deposito berjangka dengan hasil yang diperoleh dalam obligasi. Kedua jenis instrumen investasi ini sesungguhnya masing-masing memiliki daya tarik dan ciri tersendiri. Deposito berjangka merupakan instrumen investasi jangka pendek. Sementara obligasi  menawarkan jangka waktu panjang dengan keuntungan-keuntungan lainnya yang dapat dipertimbangkan. Kecuali obligasi dengan bunga mengambang (Floating Rate Bonds), obligasi memberikan hasil tetap selama periode jangka waktu yang relatif panjang dan tidak terpengaruh pada fluktuasi tingkat bunga sebagaimana halnya dengan tingkat bunga deposito berjangka yang senantiasa berubah-ubah dari waktu ke waktu sejalan dengan hasil perubahan kondisi moneter. Dalam keadaan pasar normal, hasil pendapatan yang lebih tinggi biasanya adalah obligasi yang berkualitas tinggi dibandingkan dengan yang diperoleh dari deposito atau saham-saham meskipun hubungan tersebut tidak selalu berlaku. Tahun-tahun terakhir ini tingkat bunga cukup fluktuatif. Apabila tingkat bunga jatuh antara saat pembelian dan ,jatuh temponya, investor mungkin akan memilih untuk menjual obligasinya atau apabila tingkat bunga diperk irakan akan naik, investor mungkin akan menjual obligasinya dan mengalihkan ke dalam deposito berjangka. Hal tersebut akan meningkatkan pendapatan sepanjang tingkat bunga bertahan pada posisi yang lebih tinggi sampai akhirnya mermmgkinkan investor membeli kembali obligasi pada harga yang lebih rendah. Banyak investor tertarik pada obligasi karena semata-mata Untuk mencari keamanan atas modalnya dengan menanamkannya pada obligasi berkualitas tinggi. Kunci keberhasilan manajemen portofolio obligasi adalah dengan membeli dan menjualnya pada waktu yang tepat. Hal tersebut dapat dicapai dengan secara berkala mengubah rasio deposito terhadap obligasi dalam partofolio sesuai dengan perkiraan pergerakan tingkat suku bunga.

Obligasi pada prinsipnya dapat dilihat dari cara penagihannya, yaitu: obligasi yang dapat diterbit­kan atas nama dan atas unjuk. Di samping itu obligasi dapat diterbitkan berdasarkan jaminan (secured bonds), misalnya mortgage bond dan obligasi yang diterbitkan dengan tanpa jaminan (unsecured bond) misalnya debenture.

 

Penerbitan obligasi pada prinsipnya dapat dilalcukan oleh pemerintah, semua perusahaan yang berbadan hukum atau lembaga-lembaga pemerintah lainnya. Oleh karena itu dikenal obligasi peme­rintah, obligasi yang diterbitkan BUMN dan perusahaan swasta yang disebut government bond dan corporate bond. Selanjutnya, obligasi pada prinsipnya merupakan instrumen pasar modal yang berjangka waktu panjang yaitu 3-30 tahun. Namun demikian dilihat dari jangka waktunya,

Obligasi dapat dibedakan:

  1. berjangka waktu pendek yaitu antara 3-5 tahun, yang
  2. berjangka waktu rnenengah 5-15 tahun, dan
  3. berjangka waktu panjang 15-30 tahun.

 

3.1 Jenis-Jenis Obligasi

Berbagai jenis obligasi yang diterbitkan yang dapat dipertimbangkan untuk di_jadikan instrumen investasi sebagai berikut:

 

a. Obligasi bunga tetap (fixed rate bond)

Obligasi in] disebut juga struight rate bonds yaitu obligasi yang memberikan bunga berdasarkan bunga tetap sampai jatuh tempo pelunasannya. Pembayaran bunga obligasi tersebut biasanya dilakukan misalnya setiap 6 bulan berdasarkan peijanjian penerbit. Jenis obligasi ini yang paling banyak diterbitkan dalam kondisi pasar normal. Jangka waktu jatuh temponya bervariasi antara 3-25 tahun, tetapi umumnya 5-15 tahun. Straight rate bonds sangat diminati oleh investor karena obligasi ini menawarkan dan menjamin suatu tingkat pendapatan tahunan yang tetap secara pasti sampai jatuh temponya. Di samping itu ia pula menawarkan banyak alternatif mengenai tingkat bunga dan jangka waktu jatuh tempo.

 

b. Obligasi bunga mengambang (floating rate bond)

Obligasi ini sering disamakan dengan_floating rate notes yaitu obligasi yang pembayaran bLmganya tidak tetap dan disesuaikan dengan tingkat bunga pasar secara berkala. Penentuan tingkat bunga obligasi ini misalnya didasarkan pada tingkat bunga rata-rata deposito berjangka bank-bank pemerintah ditambah sejumlah persentase tertentu di atas rata-rata tingkat bunga deposito tersebut. Bagi obligasi dalam denominasi dolar atau mata uang lainnya, penentuan bunga­nya biasanya didasarkan pada Libor atau Sibor ditambah beberapa point di atas Libor (London interbank offered rate) atau Sibor (Singqpore interhank offered rate) setiap jangka waktu tertentu misalnya setiap 6 bulan sekali. Contoh, Libor untuk 6 bulan 5% clan margin 3/4%, maka tingkat bunga obligasi efektif 5,75%. Tingkat bunga ini akan berlaku untuk 6 bulan mendatang. Jangka waktu jatuh tempo obligasi ini berkisar 5-15 tahun dan diterbitkan oleh bank­bank internasional, pemerintah, perusahaan-perusahaan besar. Pembayaran bunganya biasanya dua kali setahun atau kadang-kadang setiap 3 atau 4 bulan.

 

c. Obligasi tanpa bunga (zero coupon bond)

Yaitu obligasi yang tidalc memberikan bunga secara berkala kepada pemilik. Obligasi biasanya dijual dengan harga yang lebih rendah daripada nilai nominal obligasi (discounted basis). Kemudian pada saat jatuh tempo, obligasi tersebut ditebus sesuai dengan nilai nominalnya.

 

d. Perpetual bond

Yaitu obligasi yang tidak memiliki jatuh tempo, pembayaran bunga dilakukan secara periodik selama perusahaan (issuer) tetap beroperasi. Oleh karena itu perusahaan tidak berkewajiban melunasi obligasi tersebut kecuali perusahaan dilikuidasi.

 

e. Obligasi konversi (convertible bond)

Obligasi konversi adalah obligasi yang disertai halc untuk ditulcarkan dengan saham perusahaan penerbit (umumnya saham biasa) dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan syarat-syarat pinjaman. 19 Penukaran ini didasarkan pada rasio konversi yang telah ditentukan pada saat surat utang tersebut ditawarkan berdasarkan harga pasar yang telah disepakati. Misalnya, PT Rekayasa menerbitkan obligasi konversi dengan perjanjian konversi saham seharga Rp5.000 Lmtukjangka waktu 5 tahun. Hal ini berarti bahwa pada saat obligasi dikonversi, setiap denominasi obligasi sebesar Rp 1.000.000 dapat dikonversi atau ditukarkan sebanyak 200 lembar saham biasa. Apabila pada saat itu harga pasar saham PT Rekayasa misalnya Rp7.500, maka pemilik obligasi konversi (sekarang menjadi pemilik saham) akan memperoleh keuntungan (capital gain) sebesar Rp2.500 per lembar saham yaitu Rp7.500 - Rp5.000. Berarti jumlah keuntungan yang diperoleh selama jangka waktu pemilikan obligasi konversi adalah 200 lembar saham x Rp2.500 = Rp500.000 ditambah dengan bunga yang diterima sebelum konversi.

 

f. Bond with warrant

Yaitu obligasi yang diterbitkan disertai dengan warrant atau waran yang memberikan hak kepada pemiliknya untuk membeli sejumlah tertentu saham penerbit obligasi dengan harga yang telah ditentukan. Waran merupakan bagian dari suatu penerbit obligasi akan tetapi dapat diperdagangkan secara terpisah. Oleh karena itu waran merupakan instrumen yang memiliki peran atau fungsi terpisah dan berdiri sendiri dengan obligasi yang bersangkutan. Waran biasanya memiliki jangka waktu tertentu. Hak waran ini adalah hak yang melekat pada pemegang obligasi saham dari emiten obligasi tersebut dengan harga tertentu di masa yang akan datang.

Dalam pengertian tersebut di atas penerbit obligasi dengan waran ini mengikatkan dirinya untuk mengeluarkan dan menjual saham menurut harga dan waktu yang telah ditentu­kan. Pemegang waran tersebut tidak memiliki hak atas pembayaran dividen dan hak suara sampai hak yang dimiliki tersebut direalisasi. Penerbitan warrant ini dimulai dengan penerbitan obligasi. Kalau investor membeli obligasi, maka akan memperoleh dua lembar terpisah, satu lembar obligasi A1 dan satu lembar waran. Masing-masing kertas tadi memiliki nilai dan dapat dijual secara terpisah seperti telah dijelaskan di atas. Pada saat pemegang waran tersebut akan melaksanakan haknya, mereka harus membayar atas sejumlah saham tersebut sesuai dengan harga yang ditetapkan dalam waran. Hal ini berarti pemegang waran harus mengeluarkan uang tersendiri (fresh money) untulc pembelian saham dimal<sud. Setelah pelaksanaan hak atas waran tersebut, obligasi tetap akan memperoleh bunga sampai dengan pembayaran/penebusan pada saat jatuh temponya. Di sisi penerbit obligasi dengan waran, akan memperoleh tambahan modal

 

baru pada saat pemegang waran mempergunakan haknya. Karena waran dapat dipisahkan dari obligasi dan diperdagangkan secara terpisah, maka terdapat tiga jenis harga yang berkaitan dengan penerbitan obligasi_jenis ini sebagai berikut:

 

1. Obligasi yang masih disertai dengan waran disebut juga bonds Cum-warant atau bond

    With warrant.

2.  Obligasi dengan warrant yang telah dipisah disebut bond ex-warrant.

3. Warrant yang telah terpisah dari obligasi itu sendiri disebut warrant saja.

 

Umumnya penggunaan waran oleh investor akan dilakukan pada saat perusahaan memperlihatkan perkembangan usaha yang cukup baik yang menyebabkan naiknya harga saham perusahaan yang bersangkutan melampaui harga yang disepakati dalam waran yang bersangkutan. Dengan naiknya harga saham tersebut pemilik waran akan memperoleh keuntungan apabila hak membeli saham digunal:an dengan harga yang telah ditentukan kemudian menjualnya kembali den-an harga yang lebih tinggi. Harga pasar warrant ini biasanya sangat berfluktuasi. Contoh transaksi waran dapat dijelaskan sebagai berikut: Misalnya PT ABC menerbitkan obligasi dengan waran seharga Rp 1 juta per lembar. Isi waran menyata kan bahwa pemegangnya dapat membeli dengan hak  waran tadi sebayak 10 lembar saham PT ABC paling lambat tanggal 3 1 Desember 2000 dengan harga Rp 10.000/lernbar. Selanjutnya, apabila pada tanggal 5 Juli 2000 harga pasar saharn PTABC Rp. 15.000/ lembar. maka investor dapat melaksanakan haknya dengan membeli 10 lembar saham dengan harga Rp 10.000/lembar = Rp 100.000. Apabila investor yang ber­sangl:utan akan menjual saharnnya tersebut, maka akan memperoleh keuntungan sebesar  10 lembar x Rp 15.000 = Rp 150.000 - Rp 100.000 = Rp 50.000,-

 

 

g Eurobond dan  foreign bond

Istilah Euro diperkenalkan pada akhir tahun 1950-an oleh pasar uang dan pasar modal internasional yang berbasis di Eropa untcik menjelaslcan penggunaan mata uang yang disimpan atau didepositokan di luar negara asalnya. Oleh karena itu, pada prinsipnya setiap mata wing yang didepositokan di luar negara asal mata uang tersebut dapat saja menggunakan Prefix Euro, misalnya Eurodollcar, Euroyen  bagi dolar dan yen yang didepositokan di luar Amerika Serikat dan Jepang. Dolar Amerika Serikat merupakan Euro-currency pertama diperkenalkan Euro­dolar, yaitu dolar yang didepositokan di luar Amerika. Dolar ini kemudian dapat digunakan oleh bank untuk pinjaman. Eurodollar inilah sampai saat ini yang mendominasi pasarEurocurrency perbankan Eropa.

 

Berdasarkan pengertian tersebut di atas maka Eurobond adalah obligasi yang diterbitkan dalam mata uang suatu negara dan diperjual belikan di luar negara si peminjam atau penerbit. Dengan perkembangan pasar Eurocurrency yang sangat pesat sejak awal dekade 1960-an sebagai akibat dari detisitnya neraca pembayaran Amerika Serikat mengal:ibatl:an mengalirnya dolar keluar ,terutama ke Eropa. Penerbitan Eurobond oleh peminjam saat ini dapat bulcan saja dalam denominasi dolar AS tetapi juga dalam berbagai mata uang untuk memobilisasi dana jangka menengah-panjang. yang biasanya, dengan tingkat bunga tetap (fixed ratebond).  Eurobond digolongkan sebagai obligasi internasional yaitu obligasi yang diterbitkan di luar negara peminjam (penerbit).

 

Perbedaan pokok Eurobond dengan jenis obligasi internasional lainnya terletak pada cara penjualan dan un­derwriting-nya yaitu:

 

a. Underwriterr Eurobond biasanya dilakukan oleh sindikat internasional dari bank-bank komersial dan investment bunk.

b. Eurobond terutama dijual di negara-negara selain dari negara denominasi mata uang obligasi yang bersangkutan.

Misalnya, investment bank atau perusahaan besar lain ingin menarik dana dalam dolar di luar Amerika Serikat, maka emisi obligasi akan di-underwrite oleh sindikat internasional bank-bank clan menjualnya di negara-negara di luar Amerika Serikat. Sedangkan emisi obligasi internasional atau obligasi asing (fbreign  boncLs) selain Eurobond diterbitkan dengan cara sebagai berikut:

 

1. Underwriting dilakukan oleh sindikat bank-bank yang berasal dari satu negara.

2. Denominasi obligasi dalam mata uang negara yang bersangkutan.

3. Obligasi dijual di negara yang bersangkutan.

 

Misalnya, suatu investment bank akan menarik dana dalarn dolar di New York, maka proses emisi dilakukan sebagaimana dijelaskan di atas dan obligasi yang bersangkutan disebutforeign dollar bonds. Obligasi asing saat ini banyak diterbitkan dalam US$, DM, SFr, Bristish Poundsterling dan mata uang lainnya. Obligasi asing dalam US$ disebut Yankee Bonds sedangkan obligasi asing dalam British Pound disebut Buldog Bond.

 

STRATEGI INVESTASI DI PASAR MODAL

Investasi di pasar modal, investor harus benar-benar menyadari bahwa di samping akan memperoleh keuntungan tetapi juga kemungkinan akan mengalami kerugian. Keuntungan atau kerugian tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuan investor menganalisis keadaan harga saham dan kemungkinan turun-naiknya harga di Bursa. Oleh karena itu bermain di pasar modal tidak memiliki jaminan untuk mendapatkan capital gain yaitu selisih lebih dari harga beli saham dan harga jual saham. Dengan demikian bermain di bursa akan sangat munglcin pula investor mengalami capital loss.

Beberapa strategi yang dapat digunakan dalam melalcukan investasi di Bursa Efek khususnya dalam bentuk saham antara lain sebagai berikut:

 

a. Mengumpulkan beberapa jenis saham dalam satu portofolio.

Strategi ini dapat memperkecil risiko investasi karena risiko akan disebar ke berbagai jenis saham. Di satu pihak peluang untuk mendapatkan keimtungan cukup besar. Investor, menurut strategi ini, pertama-tama menghimpun informasi dan melakukan analisis terhadap berbagai jenis saham kemudian memilih beberapa saham sesuai dengan kemampuan dana, saham yang dipilih dan dibeli tersebut merupakan portofolio. Apabila di antara saham tersebut ada yang mengalami penurunan harga dapat dilepas kemudian digantikan dengan saham yang lain yang lebih balk. Kemudian apabila saham yang dilepas tadi harganya telah mencapai bottom, dapat dipertimbangkan untuk dibeli kembali apabila perusahaan yang bersangkutan memperlihatkan kinerja dan prospek yang balk. Dengan strategi ini kerugian-kerugian dapat lebih tersebar. Kerugian pada salah satu jenis saham bisa tertutupi oleh keuntungan pada jenis saham lainnya.

 

b.    Beli di pasar perdana dan dijual begitu dicatatkan di bursa.

 

c. Beli dan simpan.

Strategi ini dapat digunakan apabila investor memiliki keyakinan berdasarkan analisis bahwa perusahaan yang bersangkutan memiliki prospek untuk berkembang yang cukup pesat beberapa tahun mendatang sehingga sahamnya diharapkan akan mengalami kenaikan yang cukup besar pada saat itu. Keuntungan yang dapat diperoleh dari strategi ini di samping dividen juga capital gain.

 

d. Beli saham tidur.

Saham tidur adalah saham yang jarang atau tidak pernah ada transaksi. Saham tidur ini bisa disebabkan karena jumlah saham yang dicatatkan terlalu sedikit atau dikuasai oleh investor institusi dan pemilik saham lama (pendiri perusahaan). Atau dapat pula disebabkan oleh kinerja perusahaan yang bersangkutan kurang balk atau prospek usahanya masih kurang cerah sehingga kurang mendapat perhatian pernodal. Saham seperti ini biasanya cenderung harganya undervalued. Membeli saham tidur ini diperlukan kesabaran investor terhadap per­kembangan harga saham perusahaan yang bersangkutan.

 

e. Strategi berpindah dari saham yang satu ke saham yang lain.

Investor yang memilih strategi ini cenderung bersifat lebih spekulatif. Mereka akan cepat-cepat melepas saham-saham yang diperkirakan harganya akan mengalami penurunan atau buru-buru membeli saham yang menurut anggapannya akan mengalami kenaikan kurs. Investor tipe ini tidak mementingkan pembagian dividen karena sifat investasinya jangka pendek. Investor seperti ini harus senantiasa mengikuti pergerakan atau perubahan harga-harga saham di Bursa.

 

f. Konsentrasi pada industri tertentu.

Strategi ini lebih cocok bagi investor yang benar-benar menguasai kondisi suatu jenis industri, sehingga mengetahui prospek perkembangannya di masa yang akan datang. Oleh karena investor dapat memilih beberapa saham perusahaan yang baik yang memiliki bisnis dalam sektor industri yang bersangkutan.

 

g. Reksa dana.

Melakukan investasi dengan membeli unit penyertaan atau saham yang diterbitkan oleh reksa dana. Strategi ini cocok bagi investor yang tidak memiliki cukup waktu melakukan analisis pasar atau tidak ada akses informasi. Jenis investasi ini dapat memaksimalkan keuntungan pada tingkat risiko tertentu. Biasanya investor pemula cenderung memilih jenis investasi ini.

 

RISIKO INVESTASI DI PASAR MODAL

Strategi dasar investor yang akan meningkatkan kinerja atau nilai portofolio investasi menjadi lebih baik adalah dengan senantiasa mengikuti prinsip ini: "Keep your alpha high and your beta low". Secara implisit prinsip ini berarti bahwa bagaimana mengukur risiko (beta) sehingga dapat membandingkan tingkat keuntungan (alpha) yang ingin diperoleh. Memprediksi risiko dalam investasi merupakan hal yang cukup kompleks. Dan yang selalu menjadi pertanyaan bagi investor adalah bagaimana mengukur risiko individu suatu saham dari keseluruhan portofolio?. kemungkinan terjadinya fluktuasi harga (Price volatility). Risiko-risiko yang mungkin dapat dihadapi investor tersebut antara lain sebagai berikut:

 

a. Risiko daya beli (purchasing power risk)

Sifat investor dalam menangani faktor risiko di pasar modal ini terdiri atas dua, yaitu investor yang tidak menyukai risiko (risk averter) dan investor justru menyukai menantang risiko (risk averse). Bagi investor kategori pertama ini akan mencari atau memilih jenis investasi yangakan memberikan keuntungan yang jumlahnya sekurang-kurangnya sama dengan investasi yang dilaku­kan sebelumnya. Di samping itu, investor mengharapkan memperoleh pendapatan atau capital gain dalam waktu yang tidalc lama. Akan tetapi, apabila investasi tersebut memerlukan waktu 10 tahun Umtuk mencapai 60% keuntungan sementara tingkat inflasi selama jangka waktu tersebut telah naik melebihi 100%, maka investor jelas akan menerima keuntungan yang daya belinya jauh lebih kecil dibandingkan dengan keuntungan yang dapat diperoleh semula. Oleh karena itu, risiko daya beli ini berkaitan dengan kemungkinan tei jadinya inflasi yang menyebabkan nilai rill pendapatan akan lebih kecil.

Risiko investasi di pasar modal pada prinsipnya semata-mata berkaitan dengan

 

b. Risiko bisnis (business risk)

Risiko bisnis adalah suatu risiko menurunnya kemampuan memperoleh laba yang pada gilirannya akan mengurangi pula kemampuan perusahaan (emiten) membayar bunga atau dividen.

 

c. Risiko tingkat bunga (interest rate risk)

Naiknya tingkat bunga biasanya menekan harga jenis surat-surat berharga yang berpendapatan tetap termasuk harga-harga saham. Biasanya, kenaikan tingkat bunga berjalan tidak searah dengan harga-harga instrumen pasar modal. Risiko naiknya tingkat bunga misalnya jelas akan menurunkan harga-harga di pasar modal.

 

d. Risiko pasar (market risk)

Apabila pasar bergairah (bullish) umumnya hampir semua harga saham di Bursa Efek mengalami kenaikan. Sebaliknya apabila pasar lesu (bearish), saham-saham akan ikut pula mengalami penurunan. Perubahan psikologi pasar dapat menyebabkan harga-harga surat berharga anjlok terlepas dari adanya perubahan fundamental atas kemampuan perolehan laba perusahaan.

 

 

e. Risiko likuiditas (liquidity risk)

Risiko ini berlcaitan dengan kemampuan suatu surat berharga untuk dapat segera diperjualbelikan dengan tanpa mengalami kerugian yang berarti.

 

TEKNIK-TEKNIK PENILAIAN EFEK

Penilaian suatu efelc sangat dipengaruhi dan tidak terlepas dari kondisi kinerja perusahaan penerbitnya (emiten). Penilaian efek dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan fundamental (firnda­»rental upproach). Menurut fundamentalist yaitu para penganut analisis fundamental bahwa harga saham merupakan refleksi dari nilai perusahaan yang bersanglcutan. Oleh karena itu dalam melakukan penilaian suatu saham menurut pendekatan fundamental dapat digunakan teknik analisis rasio.

                

Rasio-rasio keuangan yang umum digunakan untuk melakukan analisis tersebut antara lain sebagai berikut:

 

                              Current assets

a. Current ratio =  ------------------------

                              Current liabilities

 

Current ratio sebesar 2:1 misalnya, memberikan indikasi bahwa perusahaan yang bersangkutan memiliki Rp 2 aktiva lancar (current asset) untuk menutup setiap Rp l utang lancar (current liabilities).

 

b. Working capital = Current asset - Current liabilities

 

Kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi Icewajibannya, melakukan ekspansi volume bisnisnya dan meraih keuntungan dan kesempatan keuangan ditentukan oleh posisi modal kerjanya. Ketentuan umum untuk menilai kecukupan modal kerja mi adalah aktiva lancar harus sekurang­kurangnya, dua kali dari utang lancar. Namun ini bukanlah rasio mati, karena setiap bisnis memiliki karakter yang berbeda dan karena itu memiliki kebutuhan modal kerja yang berbeda pula.

 

                                                         Current asset - inventories

c. Quick asset (acid test) ratio =--------------------------------

                                                            Current liabilities

 

Quick ratio atau sering pula disebut acid test ratio merupakan indikator pengukuran likuiditas perusahaan yang lebih ketat. Dalam perhitungan, inventories, yang umumnya bukan merupakan aktiva likuid, tidak dimasukkan sebagai aktiva lancar. Oleh karena itu, rasio ini menunjukkan secara lebih tepat bagaimana utang lancar ditutup dengan aktiva yang lebih likuid seperti kas, bank, dan aktiva-aktiva yang lebih likuid lainnya. Pengecualian inventories ini dari current asset adalah karena membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dialihlcan menjadi uang tunai.

 

d. Book value

 

Book value atau nilai buku pada dasarnya adalah nilai riil suatu saham. Nilai buku suatu perusahaan dapat diperoleh dengan cara membagi seluruh modal sendiri perusahaan dengan semua saham yang telah dikeluarkan dan disetor penuh.

                       

                                 Net worth

Book value =  ------------------------------------

                            Total shares outstanding

 

Misalkan hasil rasio tersebut di atas adalah Rp5.000 dan nilai nominal saham Rp 1.000 berarti bahwa setiap Rp 1.000 nilai nominal saham yang diterbitkan didukung oleh net equity atau nilai buku sebesar Rp5.000.

 

e. Price to book value

 

Rasio ini dapat digunakan untuk menilai apakah suatu saham undervalued atau overvalued. Suatu saham disebut undervalued bilamana harga sahamnya di bawah nilai buku perusahaan yang bersangkutan. Sebaliknya dikatakan overvalued apabila harga saham melebihi nilai buku.Untuk mengetahui apakah suatu saham termasuk undervalued atau overvalued dapat digunakan formula berikut :

 

                                       Price of stocks

Price to book value =------------------------

                                      Book value

 

f. Interest coverage

 

Rasio ini untuk menilai kemampuan perusahaan membayar biaya-biaya bunga atas utangnya dan menunjukkan berapa kali biaya-biaya tersebut dapat ditutup dari laba yang diperoleh.

 

                                  Net earnings

Interest coverage = ----------------------

                                 Total interest charges

 

Sebagai standar untuk perusahaan industri meskipun belum baku, total biaya bunga tahunan harus ditutup sekurang-kurangnya sebanyak 3 kali laba yang diperoleh.

 

                                              Total dividend

g. Dividend paid out ratio = --------------------

                                             Net earnings

 

Rasio dividen menunjukkan persentase laba yang diperoleh yang dibayarkan sebagai dividen. Misalnya rasio sebesar 30% berarti dari total laba bersih 100% perusahaan membayar dividen sebesar 30%.Sisanya 70% diinvestasikan kembali dalam perusahaan.

 

h. Efficiency atau Profitability Ratio

 

Rasio ini dapat dibedakan sebagai berikut:

 

                                       Net sale - Cost of good sold

Gross profit margin = ------------------------------------  x 100%

                                                      Net sales

 

Rasio ini memberikan indikasi mengenai tingkat efisiensi pengelolaan produksi perusahaan untuk memperoleh laba.

 

 

                            Net earnings

Net  profit margin = ---------------------- x 100%

                                          Net sales

 

Rasio ini adalah hasil akhir operasi suatu perusahaan untuk suatu periode dan merupakan indikator yang efektif untuk menarik kesimpulan mengenai kemampuan manajemen perusahaan.

Rasio-rasio profit margin untuk lembaga keuangan agak sedikit berbeda dengan perhitungan profit margin perusahaan-perusahaan manufaktur seperti dijelaskan di atas. Profit margin lembaga keuangan dapat dihitung dengan menggunakan rasio sebagai berikut:

 

                                      Operating income - Operating expenses

Gross profit margin =---------------------------------------------------        x 100%

                                                 Operating income

 

                                              Net income

Net profit margin =  ------------------------------- x 100%

                                                   Operating income

 

                                                        Net earning

i. Earning per share (EPS) = -------------------------------------

                                              Number of share outstanding

 

Rasio ini menunjukkan laba bersih yang berhasil diperoleh perusahaan untuk setiap unit saham selama suatu periode tertentu.

 

j. Dividend yield

Perkiraan harga saham suatu perusahaan dapat dilakukan dengan menggunakan teknik­

dividend yield.

 

                            Perkiraan dividen tahunan perusahaan

Harga Saham =   -------------------------------------------------

                                   Keuntungan yang diinginkan

 

Misalkan perkiraan dividen per saham adalah Rp 500 dan keuntungan yang diinginkan sebesar 10%, maka:

 

                            Rp. 500

Harga saham =   ---------     = Rp5.000

                              0.10

 

k. Price Earning Rulio (PER)

 

Rasio ini digunal:an secara luas oleh pelaku Pasar Modal untuk menilai suatu harga saham. Pada prinsipnya price earning ratio memberikan indikasi mengenai jangka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan dana pada tingkat harga saham clan keuntungan perusahaan pada suatu periode tertentu. Rasio ini menggambarkan kesediaan investor membayar suatu jumlah untuk setiap Rupiah perolehan laba perusahaan. Price earning ratio dihitung dengan formula berikut:

                       

                  Market price qf contmon stocks

PER =  -------------------------------------------    

                 Earning per share (EPS)

 

Hasil rasio 14,5 misalnya, berarti bahwa saham perusahaan yang bersangkutan (pada saat itu) dijual dengan harga 14,5 kali dari EPS. Contoh lain, PER sebesar 15 menunjukkan bahwa in­vestor membayar Rp 15 untuk setiap Rp l laba perusahaan. Sampai sekarang ini belum ada kesepakatan penuh mengenai jumlah angka PER yang dianggap ideal atas harga saham suatu perusahaan. Namun rasio ini memberikan informasi bahwa semakin kecil nilai PER semakin rendah pula harga saham karena semakin cepat jangka waktu pengembalian dana investasi.