PEMASARAN

 

PENGERTIAN PEMASARAN

 

Pemasaran merupakan bagian yang penting berhubungan dengan pasar, karena pasar yang ada sekarang merupakan pasar pembeli di mana terjadinya transaksi jual beli ter­gantung pada keputusan pembeli sendiri. Sehingga pasar yang ada sangat dipengaruhi oleh perilaku para konsumen dan yang penting perusahaan sebagai yang menawarkan barang hanya bisa mengikuti kehendak konsumen dan bagaimana mengatasi pesaing­pesaing dari perusahaan yang menciptakan barang sejenis.

Dengan demikian kalau kita mendengar kata "pemasaran" berarti kita harus menghubungkan berbagai kegiatan perusahaan seperti penjualan, perdagangan, distribusi dan penetapan harga dan sebagainya. Karena menyangkut berbagai hal inilah membuat fungsi pemasaran sangat penting bagi kemajuan dan perkembangan perusahaan.

Pada dasarnya fungsi pemasaran itu merupakan suatu proses kegiatan yang tidak sederhana dari barang sebelum produksi sampai bagaimana supaya sampai di tangan konsumen yang dapat menghasilkan laba perusahaan atau paling tidak sampai pada kem­balinya modal perusahaan.

Di bawah ini pengertian dari beberapa ahli pemasaran:

1. William J Stanton

Pemasaran adalah keseluruhan intern yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan usaha yang bertujuan untuk merencenakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang akan memuaskan kebutuhan pembeli baik pembeli yang ada maupun pembeli yang potensial.

2. Philip dan Duncan

Pemasaran meliputi semua langkah yang digunakan atau diperlukan untuk menem­patkan barang-barang berujud kepada konsumen.

3. American Marketing Association

Pemasaran meliputi pelaksanaan kegiatan usaha niaga yang diarahkan pada arus aliran barang dan jasa dari produsen dan konsumen.

 

Fungsi utama mengapa kegiatan pemasaran dilakukan:

1. Untuk memberikan informasi tentang produk yang dijual perusahaan.

2. Untuk mempengaruhi keputusan membeli konsumen.

3. Untuk meciptakan nilai ekonomis suatu barang.

 

1.1. Hubungan pemasaran dan pasar

Pemasaran merupakan proses kegiatan dari produsen ke tangan konsumen. Karena merupakan suatu proses kegiatan di mana kegiatan itu dilakukan, kapan kegiatan tersebut dapat dilakukan dan bagaimana caranya ?

Semua tujuan tersebut berhubungan dengan pasar di mana produsen yang menawar­kan barang akan bertemu dengan konsumen yang membutuhkannya. Disinilah letak kegiatan pemasaran dilakukan dan kegiatan pemasaran tersebut mencakup strategi­strategi pemasaran perusahaan yang baik, cara-cara yang dilakukan perusahaan maupun saat kapan kegiatan tersebut dilakukan.          Kalau dihubungkan dengan pasar, kita harus tahu lebih dulu apa sebenarnya yang dimaksud dengan pasar ?

Pengertian pasar menurut beberapa pendapat adalah sebagai berikut:

 

1. Pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pernbeli.

2. Pasar adalah daerah tempat di mana didalamnya teu-dapat penawaran dan permintaan yang bertemu untuk membentuk harga.

3. Pasar adalah orang-orang yang mempunyai keinginan untuk puas, uang untuk ber­belanja dan kemauan untuk membelanjakannya (menurut William J Stanton).

 

Dapat disimpulkan bahwa yang menjadi faktor utama terjadinya pasar:

1. Orang-orang yang mempunyai keinginan untuk terpuaskan.

2. Daya beli konsumen.

3. Tingkah laku pembeli atau setelah pembelian.

4. Harga yang disetujui oleh kedua belah pihak ( antara penjual dan pembeli ).

 

Jadi hubungan antara pemasaran dan pasar sangat erat, karena pasar merupakan tempat terjadinya transaksi jual beli, sedangkan pemasaran merupakan kegiatan bagaimana agar produksi terjual dan dapat memuaskan keinginan pembeli sehingga pembeli akan membeli produk perusahaan yang sama setelah mereka merasa cocok dan puas akan produk yang bersangkutan.           Dengan melalui pasar perusahaan dapat melaksanakan konsep pemasarannya yaitu bagaimana usaha perusahaan untuk memuaskan kebutuhan konsumen sebagai syarat sosial maupun ekonomi bagi kelangsungan hidup perusahaan.

 

1.2. Bagaimana mempelajari pemasaran ?

Beberapa pendekatannya yaitu:

 

a. Pendekatan serba fungsi.

b. Pendekatan serba lembaga.

c. Pendekatan serba barang.

d. Pendekatan serba manajemen.

e. Pendekatan serba sistem.

 

A. Pendekatan serba fungsi

Pendekatan serba fungsi mempelajari pemasaran dilihat dari apa saja kegiatan pokok pemasaran yang dilakukan. Adapun kegiatan pokok pemasaran adalah:

 

1. Pembelian

Pembelian ini bisa diartikan pembeli barang-barang untuk dijual maupun pembelian barang-barang yang merupakan bahan masukan lainnya untuk menghasilkan produk suatu perusahaan. Fungsi pembelian akan sangat penting artinya bagi perusahaan karena menyangkut hasil produk yang nanti dijual di pasar. Hal yang penting untuk diperhatikan di sini adalah bahwa kegiatan pembelian sangat beruhubungan dengan bagaimana penanganan persediaan, kualitas dan keahlian dalam menganalisa pasar.

2. Pengangkutan

Pengangkutan adalah kegiatan memindahkan barang baik dari bahan baku ke proses produksi maupun setelah menjadi barang jadi dari pabrik ke konsumen. Kegunaan fungsi ini adalah mempercepat proses pendistribusian barang ke segmen-segmen pasar yang dipilih maupun memperlancar proses produksi dan kontinuitas kegiatan operasional perusahaan sehari-hari.

3. Penjualan

Penjualan adalah kegiatan pemasaran yang paling pokok karena penjualan dengan mempengaruhi naik turunnya pendapatan perusahaan, sedangkan mati hidupnya perusahaan amat tergantung pencapaian target penjualan yang diharapkan dapat menambah masukan pendapatan perusahaan.

Cara-cara apapun akan dilakukan agar penjualan produksi perusahaan dapat diper­tahankan atau bahkan dapat ditingkatkan.

4. Penyimpanan

Penyimpanan adalah menyimpan barang produksi perusahaan atau barang yang akan dijual untuk sementara waktu sebelum dipasarkan. Kegunaan fungsi penyimpanan baik untuk konsumen, penyalur maupun perusahaan adalah:

      a. Produsen atau perusahaan bertujuan untuk menstabilkan harga atau karena sifat

          produksi yang terus menerus ataupun pembelian konsumen yang terus menerus.

b. Spekulasi penentuan harga produksi.

      c. Efisiensi dana.

5. Pembelanjaan

Pembelanjaan merupakan fungsi untuk mendapatkan dana atau modal baik dari supplier bahan baku, maupun dana ( kredit ) jangka pendek dari bank atau lembaga keuangan lainnya.

6. Penanggungan resiko

Fungsi ini merupakan kegiatan untuk menghindari dan mengurangi resiko yang berkaitan dengan pemasaran, misalnya: resiko akibat gempa bumi, banjir, rusak, turunnya kualitas dan melesunya pasar, dan lain-lain.

7. Standardisasi dan grading

Standardisasi ( normalisasi ) adalah penentuan batas-batas dasar dalam bentuk khusus terhadap barang-barang baik berdasarkan jumlah, kualitas, kapasitas, kekuatan ataupun ukuran fisik barang.

Sedangkan grading adalah kegiatan mengelompokkan barang ke dalarn kelompok standar kualitas yang sudah diakui secara internasional. Pelaksanaan grading ini bisa dilakukan dengan jalan memeriksa dan menyortir dengan panca indera, alat maupun contoh produk standar. Grading ini biasanya dilakukan pada barang-barang hasil pertaniaan, perikanan, dan perkebunan.

8. Pengumpulan informasi pasar

Informasi pasar menyangkut secara keseluruhan situasi pasar yang akan dimasuki perusahaan untuk menawarkan barang. Informasi pasar ini biasanya mcncliti dan meng-evaluasi bagaimana tingkah laku konsumen yang akan dilayani, bagaimana penentuan harga jualnya agar dapat bersaing dengan barang sejenis, bagaimana daya beli konsumen dan sebagainya.

 

B. Pendekatan serba lembaga

Pendekatan serba lembaga mempelajari fungsi pemasaran dilihat dari segi organisasi/lembaga yang terlibat dalam kegiatan pemasaran:

- Produsen sebagai penghasil barang jadi.

- Supplier sebagai penyedia bahan baku.

- Perantara pedagang.

- Perusahaan saingan.

- Konsumen, dan sebagainya.

 

C. Pendekatan serba barang (Pendekatan organisasi industri)

Pendekatan serba barang adalah suatu pendekatan pada pemasaran yang melibatkan studi tentang bagaimana barang-barang tertentu berpindah tangan dari tangan produsen ke tangan konsumen akhir atau konsumen industri. Pemasaran ini disesuaikan dengan jenis barang yang sudah dipilih perusahaan untuk dijual.

Pengertian barang atau produk adalah suatu sifat yang komplek baik yang dapat diraba ataupun tidak termasuk bungkus, warna, mutu, harga, prestise perusahaan dan pengecer, pelayanan pengecer dan perusahaan, yang diterima pembeli untuk memuaskan keinginan atau kebutuhan.

 

Barang dapat digolongkan menjadi dua macam:

1. Penggolongan barang menurut tingkat pemakaiannya dan kekongkritannya

     ada 3 macam:

a. Barang tahan lama.

b. Barang tidak tahan lama.

c. Jasa.

2. Penggolongan barang menurut tujuan pemakaian oleh si pemakai

    ada 2 macam:

    a. Barang konsumsi terdiri dari :

        - Barang konvenien.

        - Barang shopping.

        - Barang spesial.

    b. Barang industri terdiri dari:

        - Bahan baku.

        - Barang setengah jadi.

        - Instalasi.

        - Peralatan.

 

D. Pendekatan serba manajemen

Pendekatan serba manajemen mempelajari pemasaran dilihat dari pendapat manajer serta keputusan yang diambil. Pendekatan ini menckankan masalah-masalah pcmasaran yang dihadapi oleh produsen sebagai kekurangan dari aspek lain tentang sistem pe­masaran. Masalah-masalah pemasaran ini meliputi produk, harga, promosi, saluran dis­tribusi, persaingan, perkembangan teknologi dan lain-lain.

 

E. Pendekatan serba sistem

Pendekatan ini menyangkut elemen-elemen yang luas dalarn sistem pemasaran ter­masuk pendekatan serba fungsi, manajemen, produk, dan lembaga.

 

1.3. Kegiatan Utama Pemasaran

Kegiatan utama pemasaran atau juga disebut sebagai marketing mix adalah suatu perangkat perusahaan yang terdiri dari :

 

4 variabel (4P) yaitu

  1. Produk (Product),
  2. Struktur harga (Price)
  3. Kegiatan promosi (Promotion)
  4. Saluran distribusi (Place)

dengan tujuan untuk menentukan tingkat keberhasilan pemasaran perusahaan yang bisa memberikan kepuasan dalam pemenuhan kebutuhan konsumen yang dipilih atau segmen pasar yang dilayani.

 

1.3.1. Produk (Product – P ke 1)

Produk merupakan hasil dari proses produksi perusahaan yang nantinya akan dijual perusahaan atau barang yang dibeli untuk dijual kembali kepada konsumen akhir ( bagi perusahaan dagang). Dalam membahas apa itu produk sebagai salah satu dari keempat variabel marketing mix akan kita bagi menjadi 3 bagian:

a. Pemilihan produk.

b. Pembungkus barang.

c. Merk barang.

 

a. Pemilihan barang/produk

Kebijaksanaan perusahaan dalam memilih produk yang akan dijual atau produk yang akan dibeli ( bagi perusahaan dagang ) amat berpengaruh pada penentuan harga, strategi, promosi yang akan dilakukan agar berhasil dalam melaksanakan fungsi penjualan dari bidang pemasaran. Pemilihan barang atau produk yang tepat untuk dipasarkan atau sesuai dengan perilaku pembeli ataupun daya beli konsumen akan menguntungkan perusahan sehingga hasil kegiatan perusahan yg dicapai akan dapat dipertahankan atau ditingkatkan demi kelangsungan hidup perusahaan.

Yang penting di sini adalah bagaimana cara mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin dihadapi perusahaan karena terjadi proses tahapan siklus kehidupan barang. Siklus kehidupan barang ini akan selalu terjadi di mana pada suatu saat kalau produk tersebut sudah, mencapai tahap kejenuhan akan mengalami penurunan penjualan yang berarti juga terjadi turunnya tingkat pendapatan perusahaan. Oleh karena itu sebelum perusahaan terlambat dalam mengatasi perjalanan produk dalam siklus kehidupan produk maka tindakan yang harus dilakukan adalah strategi apa yg akan dilakukan atau kebijaksanaan apa yang akan dilakukan agar sebelum produk tersebut sudah tidak laku lagi perusahaan sudah menyiapkan produk baru, atau strategi baru.

Tahap-tahap siklus kehidupan barang dibagi menjadi 5 tahapan di mana untuk masing­masing tahap suatu perusahaan harus memasang strategi atau kebijaksanaan yang ber­lainan untuk menjaga agar kelangsungan hidup perusahaan terjamin. Lima tahap tersebut adalah sebagai berikut:

 

1. Tahap perkenalan.

2. Tahap pertumbuhan.

3. Tahap kedewasaan.

4. Tahap kejenuhan.

5. Tahap penurunan.

 

Kalau digambarkan sebagai berikut:

 

 

 

1. Tahap Perkenalan

Tahap perkenalan ini menunjukkan bahwa barang yang dipasarkan benar-benar baru atau masyarakat belum tahu atau belum mengenalnya sehingga perlu memperkenalkan barang tersebut pada masyarakat melalui penyampaian informasi dengan kegiatan promosi yang gencar dan agresif menekankan merk penjualan, kelebihannya dibandingkan dengan produk sejenis ataupun bagaimana kegunaannya bagi konsumen dan lain-lain.

Tahap perkenalan ini biasanya memerlukan ongkos promosi yang sangat tinggi sedangkan hasil penjualan masih berjumlah sedikit untuk memberikan tambahan pendapatan bagi produsen. Tujuan utama promosi adalah agar konsumen tahu dan mengenal dengan baik produk perusahaan dan mulai menyukainya.

2. Tahap Pertumbuhan

Tahap pertumbuhan ditunjukkan dengan meningkatnya volume penjualan dengan cepat karena produk sudah menempatkan pada segmen pasar yang sesuai. Usaha yang dilakukan dalam tahap ini adalah menurunkan kegiatan promosinya untuk diganti dengan memperluas dan meningkatkan distribusi ke daerah-daerah (lokasi-lokasi segmen pasar) yang belum dimasuki atau kegiatan promosi digantikan dengan persaingan harga dengan perusahaan pesaing.

Perlu diketahui pada tahap pertumbuhan ini bermunculan perusahaan-perusahaan pesaing yang mencoba merebut segmen pasar yang kita kuasai dengan menggunakan strategi-strategi yang dengan perlahan dan pasti dapat menggeser kedudukan perusahaan yang lebih dulu masuk di pasar.

3. Tahap kedewasaan dan kejenuhan

Tahap kedewasaan merupakan titik puncak kejayaan perusahaan dengan dapat menunjukkan peningkatan volume penjualan yang sangat tinggi. Pada tahap ini produk perusahaan sudah dikenal dengan baik oleh konsumen sehingga usaha promosi amat sedikit peranannya dalam menigkatkan atau menambah volume penjualan.

Tambahan volume penjualan sudah sulit dilakukan sedangkan bagian pasar yang kita kuasai sudah banyak yang dimasuki produk-produk pesaing yang sedikit demi sedikit mulai mengkikis segmen pasar kita ditambah lagi konsumen sudah mulai melirik produk sejenis lainnya yang sekiranya mempunyai keunggulan lebih banyak atau dengan kata lain konsumen sudah mulai jenuh dengan produk yang kita jual.

 

4. Tahap kemunduran/penurunan

Akibat buruk perilaku konsumen tersebut menurunkan volume penjualan perusahaan sehingga perusahaan harus cepat-cepat mengambil kebijaksanaan agar perusahaan tidak bangkrut.

Adapun ada 2 kebijaksanaan yang dapat dilaksanakan perusahaan yaitu:

1.   Menghentikan produk yang sudah tidak dapat bersaing dengan menggantikan barang yang benar-benar baru dan lain dibandingkan dengan produk lama. Kebijaksanaan ini dapat berjalan dengan lancar asalkan perusahaan mempunyai tenaga yang mempunyai kemampuan dalam membuat motivasi baru, kreasi, atau menciptakan barang yang akan menggantikannya.

2.  Tetap mempertahankan barang lama tetapi memperbarui antribut-antribut lamanya apakah bungkusnya, atau menonjolkan kelebihan lain. Kalau alternatif ini tidak bisa dilakukan perusahaan harus mencari barang baru yang memerlukan penelitiaan dari awal lagi baik mengenai mutu, merk, pembungkus, cara mendistribusikannya dan lain-lain.

 

b. Pembungkus barang

Bungkus barang merupakan pertimbangan ke dua setelah produk yang sejenis ter­nyata mempunyai kualitas yang sama, harga yang sama, rasa yang sama atau kegiatan yang relatif berbeda. Maka bagi pembeli yang merasa bingung dengan berbagai merk tersebut akhirnya akan mempertimbangkan bungkus luar produk yang akan dipilih. Oleh karena itu bungkus juga memegang peranan penting dalam menjual produk.

Untuk membuat bungkus agar menarik pembeli maka perusahaan harus memper­timbangkan dari berbagai aspek baik aspek ekonomis, keindahan maupun praktisnya.

Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembungkusan diantaranya:

- Bungkus yang membangkitkan hasrat untuk membeli.

- Bungkus yang mudah diingat.

- Bungkus yang tidak menambah harga jual sehingga tidak dapat bersaing dengan

   produk sejenis yang lain.

      - Bungkus didesign agar dapat menjaga mutu barang, memudahkan pengangkutan,  penyimpanan, penyusunan di rak toko, atau mempunyai kegiatan setelah dipakai habis ( ada kegitan ganda ).

 

c. Merk Barang

Merek baik yang dinyatakan dengan kata-kata saja atau disertai dengan gambar tertentu untuk mempertegaskan adalah sangat penting bagi perusahaan untuk membedakan perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain. Dengan melihat merk seseorang yang sudah menggemari atau fanatik terhadap rasanya, mutunya atau keadaannya tidak akan memilih lagi dalam membeli barang cukup hanya dengan melihat gambar tertentu atau kata-kata tertentu dalam suatu produk menganggap sudah cukup memutuskan untuk membeli.

Dengan merk yang sudah menjadi langganan pemakai dapat menghemat waktu dalam membeli karena dapat menyuruh orang lain untuk membelinya ( praktis ) dan membuat anggaran tertentu dalam memakainya. '

Banyaknya manfaat yang dapat diperoleh konsumen ini ternyata terlihat juga oleh produsen sehingga sering kali produsen menggunakan merk tersebut sebagai salah satu strategi pemasarannya dengan jalan perusahaan memproduksi barang yang tidak terlalu berbeda setiap memakai berbagai merk, tujuannya untuk menguasai pasar.

 

1.3.2. Harga (Price – P ke 2)

 

a. Pengertian Harga

Harga merupakan faktor pertimbangan utama terhadap orang sejenis bagi sebagian

besar masyarakat Indonesia terutama mereka yang tergolong ke dalam golongan ekonomi lemah.

      Harga dapat dipandang dari 2 sudut:

1.  Kalau dipandang dari sudut konsumen harga memegang peranan penting terutama
      kalau menyangkut sejumlah barang tertentu yang mutunya tidak berbeda jauh.

2.   Kalau dipandang dari sudut pengusaha harga berkaitan erat dengan ongkos

      produksi maupun target laba yang diharapkan.

 

Dengan melihat pentingnya peranan harga suatu barang dipandang dari 2 kepenting­an yang berbeda menyebabkan penentuan harga merupakan kebijaksanaan perusahaan yang amai penting karena perusahaan harus mempertimbangkan,perilaku konsumen juga dalam menetapkan harga jual produk agar barang yang dijual dapat habis terjual dan dapat menghasilkan laba.

Salah satu prinsip penting dalam penentuan harga bagi manajemen perusahaan adalah menitikberatkan kemampuan dan kemauan membeli dengan harga yang telah disepakati bersama dan bagi perusahaan harga tersebut telah cukup menutup ongkos maupun menghasilkan laba.

b. Cara penentuan harga

Pada dasarnya ada 2 cara dalam menentukan harga yaitu:

1. Menentukan harga yang sangat tinggi.

Harga yang tinggi ditujukan untuk mengurangi resiko kekeliruan harga yang tidak bisa dinaikkan atau memang bertujuan untuk melayani pembeli yang mampu saja. Dalam penentuan harga yang tinggi ini perusahaan harus mau menanggung resiko jika barang tersebut sudah berada pada tahap kejenuhan di mana promosi sudah tidak berguna sedangkan para pesaing sudah mulai memasuki pasar perusahaan.

 

2. Menentukan harga yang serendah mungkin.

Harga serendah mungkin ditujukan untuk meningkatkan volume penjualan perusahaan terutama kalau produksi tersebut baru mencapai tahap perkenalan di mana perusahaan tidak terlalu mengharapkan cepat kembalinya modal perusahaan. Jadi yang penting di sini adalah bagaimana menarik calon pembeli sehingga pembeli mulai menyukai dan akan membeli lagi. Yang perlu diperhatikan di sini jangan sampai konsumen berpikir bahwa barang yang ditawarkan merupakan barang yang out to date atau mutunya rendah serta tidak tahan lama.

Hal ini perlu diperhatikan karena harga-harga yang sudah ditetapkan harus dapat mengikuti gejolak ataupun perkembangan pasar. Dengan tindakan pengontrolan terhadap harga jual di pasar perusahaan dapat mengambil kebijaksanaan yang sewaktu ­waktu memang harus dilakukan untuk menyesuaikan harga.

 

2. PENAWARAN DAN PERMINTAAN

Permintaan adalah suatu jumlah barang yang dibeli pada tingkat harga tertentu dan cenderung lebih rendah dari yang ditawarkan schingga semakin banyak barang yang dibeli atau diminta terjadi karena scmakin rendahnya tingkat harga yang tcrjadi.

Penawaran adalah sejumlah barang yang dilawarkan olch penjual pada tingkat harga tertentu di mana pada umumnya tinggi sehingga barang yang ditawarkan juga semakin banyak.

Dengan bertemunya penawaran dan pcmbelian maka terbentuklah tingkat harga yang disetujui oleh kedua belah pihak. Kejadian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

 

 

 

 

3. Daya beli dan urutan kepentingan pembelian barang

Daya beli merupakan kemampuan pembeli yang benar-benar menciptakan pasar potensial, maksudnya di samping pembeli berkeinginan membeli mereka juga diikuti dengan tindakan membeli (beserta mampu membayar). Daya beli di sini tidak hanya tergantung pada keinginan konsumen yang ingin terpuaskan tetapi juga bagaimana kedudukan barang tersebut dalam urutan kebutuhan konsumen dalam daftarnya. Karena semakin penting bagi konsumen untuk membelinya maka akan semakin memberikan peluang untuk menciptakan daya beli konsumen / pembeli.

 

4. Elastisitas Permintaan

Semakin elastis sifat permintaan pasarnya maka semakin besar pengaruh perubahan harga terhadap perilaku pembeli. Sifat permintaan barang dikatakan elastis kalau harga barang berubah sedikit saja akan mengakibatkan perubahan voleme penjualan lebih besar.

Akan tetapi sebaliknya kalau sifat pemintaan pasar terhadap barang tersebut adalah elastis maka dampak pengaruh perubahan harga tidak terlalu membuat perubahan pada volume penjualannya atau dengan kata lain perubahan harga hanya menyebabkan pe­rubahan volume yang lebih kecil prosentasenya.

 

5. Peraturan dan pengawasan pemerintah

Peraturan dan pengawasan pemerintah ini dilakukan untuk tujuan menyeimbangkan atau mengontrol situasi perekonomian jangan sampai lesu. Cara yang biasa dilakukan pemerintah adalah menentukan harga maksimum - minimum maupun diskriminasi harga. Kesemuanya ini untuk mencegah timbulnya monopoli maupun oligopoli yang benar­benar amat merugikan konsumen sebagai pembeli dan dampak yang lebih parah lagi adalah lesunya perekonomian sehingga perekonomian tidak mengalami perkembangan.

 

c. Politik Penetapan Harga

Politik penetapan harga dilakukan untuk merangsang dan menarik pembeli agar memberi barang yang ditawarkan perusahaan. Adapun politik ini melibatkan beberapa bagian perusahaan terutama bagian penjualan, produksi maupun keuangan, sedangkan politik penetapan harga ini dibagi menjadi 3 bagian :

 

1. Penetapan harga psikologis (Odd Pricing).

Odd Pricing ni menetapkan harga yang ganjil yang sebenamya secara psikologis menarik pembeli karena harga kelihatannya murah pada hasil sebenamya hanya selisih yang sedikit sekali.

Contoh:

Kalau sebelum dilakukan Odd Pricing harga sepatu merk "Spotec" sebesar Rp 30.000,00 maka setelah perusahaan melakukan kebijaksanaan dengan Odd Pricing maka harganya turun menjadi Rp 29.850,00.

2. Price Linning.

Seperti di atas baik Odd Pricing maupun Price Linning biasa dilakukan para pedagang eceran yaitu dengan cara menjual produksi sejenis dengan berbagai merk yang berbeda dan harga yang dikclompok-kclompokkan.

Contoh:

Pengecer ( toko ) penjual pakaian mcnjual pakaian dcngan berbagai merk dan membagi golongan pakaian tcrscbut ke dalam 4 golongan yaitu yang berharga Rp 5000,00, Rp 10.000, Rp 15.000,(X) dan Rp 25.(XX),00.

3. Potongan harga

Potongan harga adalah pcngurangan dari harga yang ada dan dinyatakan dalam bentuk secara tunai agar menarik calon pembeli. Potongan harga tersebut tidak hanya berupa potongan tunai saja tetapi ada jenis potongan harga lainnya diantaranya:

 

a. Potongan tunai

Potongan hanya dinyatakan dengan jangka waktu pembayaran yang tclah disepakati bersama .

Misal:

Syarat penjualan 2/10, n/30. Hal ini bcrarti sclama konsumcn mcmbayar kurang dari waktu sepuluh hari sctclah pcnycrahan barang maka konsurnen tersebut akan mendapat potongan tunai scbesar 2 % dari harga jual akan tetapi kalau konsumen membayar dalam jangka waktu sctclah 10 hari maka konsumen tcrscbut tidak mendapat potongan tunai dan batas akhir pcmbayaran tcrscbut adalah 30 hari sctclah barang diserahkan.

 

b. Potongan Dagang ( fungsional )

Potongan dagang adalah potongan yang dibcrikan oleh perusahaan kcpada pihak­pihak yang ikut memasarkan produksi yang bcrsangkutan schingga potongan dagang ini biasa diberikan kepada agen, distributor, penyalur maupun pengcccr.

 

c. Potongan Kuantitas

Potongan kuantitas adalah potongan yang diberikan kepada konsumen karena konsumen mau membeli dalam jumlah yang cukup besar.

Misalnya:

Kalau konsumen membeli lebih dari 3 potong pakaian dengan merk tertentu maka konsumen akan diberi satu hadiah atau harga dipotong 10 % dari seluruh harga yang harus dibayar.

 

d. Potongan Musiman

Potongan musiman adalah potongan harga yang diberikan kepada konsumen karena konsumen mau membeli produk-produk yang tidak pada musimnya untuk dipakai.

Misalnya:

Pada musim kemarau konsumen mau membeli payung atau jas hujan akan

diberi potongan 20 %.

 

1.3.3. Saluran Distribusi Pemasaran  (Place – P ke 3)

1. Pengertian saluaran distribusi

Saluran distribusi adalah saluran yang dipakai oleh produsen untuk menyaurkan barang hasil produksinya kepada konsumen, baik sampai berpindahnya hak (penguasaan) sampai dengan pemindahan barang maupun hanya pemindahan hak kepemilikannya saja.

Pemilihan saluran distribusi harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut;

 

a. Sifat pembeli, seperti kebiasaan membeli, frekuensi pembelian, letak geografis dsb.

b. Sifat produk.

c. Sifat perantara.

d. Sifat pesaing.

e. Sifat.perusahaan, dan sebagainya.

Sifat pembeli sangat mempengaruhi keputusan produsen dalam memilih saluran distribusi yang dipakai.  Sebagai contohnya, kalau jumlah pembeli banyak, frekuensi pembelian dalam jumlah yang kecil-kecil maka akan membuat produsen cenderung memilih saluran distribusi yang panjang.

Demikian juga sifat produk juga merupakan pertimbangan produsen yang tidak kalah pentingnya. Misalnya, apakah barang tersebut mudah rusak atau tidak, bagaimana ukur­annya, bagaimana kualitas barang kalau dilihat dari konsumen, harganya dan sebagainya. Kesemuanya itu perlu untuk jadi bahan pertimbangan yang penting juga.

Demikian juga masalah sifat perantara, perusahaan, pesaing, pasar yang dituju dan sebagainya menjadi faktor yang penting dalam memilih saluran distribusi yang akan digunakan perusahaan. Saluran distribusi yang digunakan itu dengan tujuan agar barang yang ditawarkan sampai pada konsumen industri ataupun konsumen akhir.

 

2. BEBERAPA ALTERNATIF PEMILIHAN SALURAN DISTRIBUSI

Untuk memakai saluran distribusi tertentu di samping mempertimbangkan faktor­faktor di atas perusahaan juga perlu mengetahui unsur apa saja yang sebenamya juga mempengaruhi pemilihan saluran distribusi, diantaranya:

 

a. Tipe perantara.

Perantara dalam kenyataannya juga melakukan beberapa macam fungsi pemasaran seperti penyimpanan, pengangkutan, penjualan, pembelian dan sebagainya. Kalau fungsi pemasaran yang dilaksanakan perantara temyata lebih efisien dibandingkan dengan kalau fungsi pemasaran tersebut dilaksanakan oleh produsen maka produsen yang bersangkutan biasanya memasukkan perantara ke dalam saluran distribusi yang dipilihnya.

Pada dasamya ada 3 jenis perantara yaitu pedagang, pengecer dan agen. Pedagang (Wholesaler) adalah perantara yang secara nyata mempunyai barang dagangan dan melakukan fungsi pemasaran di mana barang yang didagangkan dalam jumlah volume penjualan yang besar sehingga pedagang besar ini biasanya hanya melayani pembelian dalam jumlah yang banyak atau dengan kata lain tidak melayani konsumen akhir yang membeli untuk memenuhi kebutuhan pribadinya ( atau bersifat non bisnis).

Perantara yang kedua adalah pengecer ( retailer ). Pengecer merupakan jenis perantara yang berhubungan langsung dengan konsumen akhir baik konsumen untuk keperluan pribadi maupun konsumen industri.

Kalau digambarkan saluran distribusi tersebut adalah sebagai berikut:

 

 

Jadi pengecer maupun pedagang sudah mempunyai hak milik terhadap barang yang dijualnya sehingga kalau barang sudah sampai di pedagang besar atau pengecer maka saluran distribusi yang di pilih mereka bukan lagi menjadi urusan/tergantung pada produsen.

Perantara yang ketiga adalah agen. Agen mempunyai perbedaan dengan pedagang besar maupun pengecer. Hal ini diperlihatkan pada masalah hak kepemilikan barang yang dijualnya. Kalau pedagang besar dan pengecer mcmpunyai hak milik pada barang yang dijual maka kalau pada agen sebaliknya. Biarpun sebagai mereka dapat menjual dalam partai besar tetapi tetap hak miliknya masih berada di produsennya.

Kalau digambarkan sebagai berikut:

 

 

 

b. Jumlah perantara.

Kalau ditinjau dari jumlah perantara, ini menyangkut untuk tingkat penyebaran pasar yang diinginkan oleh produsen. Dengan mempertimbangkan jumlah perantara/penyalur maka produsen mcmpunyai 3 jcnis kebijaksanaan alternatif pemakaian saluran distribusi, yaitu:

1.  Distribusi Intensif.

Kebijaksanaan yang dipakai perusahaan dengan jalan memakai sebanyak mungkin penyalur atau pengecer untuk mcncapai dengan cepat kcbutuhan konsumen dapat ter­penuhi dcngan segera. Biasanya kebijaksanaan ini dilakukan kalau produsen menjual barang-barang konsumsi sejenis, konvinien atau kcbutuhan pokok sehari-hari.

 

2. Distribusi selektif.

Distribusi yang dipilih produsen dengan hanya memakai beberapa perantara saja, untuk memudahkan pengawasan terhadap penyalur. Distribusi ini dipakai untuk memasarkan barang-barang baru, barang spesial maueun barang industri jenis peralatan ekstra. Sehingga dalam pemakaian saluran distribusi ini produsen berusaha memilih beberapa penyalur yang benar-benar baik dan mampu melaksanakan fungsi pemasaran.

3. Distribusi eksklusif.

Distribusi yang dipilih produsen dengan hanya memakai satu perantara saja dalam wilayah geografis tertentu. Hal ini dilakukan untuk pengawasan yang lebih intensif dan mendorong semangat penyalur agar agresif dalam melaksanakan fungsi pemasarannya. Distribusi ini dipakai produsen penghasil barang -barang yang relatif mahal/berat.

 

1.3.4. Promosi (Promotion – P ke 4)

1. Pengertian

Promosi adalah arus informasi atau persuasi satu arah yang dapat mengarahkan organisasi atau seseorang untuk menciptakan transaksi antara pembeli dan penjual.

Promosi merupakan kegiatan terakhir dari marketing mix yang sangat penting karena sekarang ini kebanyakan pasar lebih banyak bersifat pasar pembeli di mana keputusan terakhir terjadinya transaksi jual beli sangat dipengaruhi oleh konsumen. Oleh karena itu pembeli adalah raja. Para produsen berbagai barang bersaing untuk merebut hati para pembeli agar tertarik dan mau membeli barang yang dijualnya.

Pada dasarnya keputusan membeli sangat dipengaruhi oleh motif-motif pembelian di mana bisa karena pembeli melaksanakan pembelian karena hanya pertimbangan (motif = terdorong) secara emosional, seperti merasa bangga, sugesti, angan-angan dan sebaginya. Tetapi bisa juga pembeli membeli secara rasional seperti: karena mempertim­bangkan rawatnya, ekonomisnya, segi kepraktisan, harganya, pengangkutannya dan sebaginya.

Pembelian juga dapat saja terjadi karena memang benar-benar direncanakan yaitu sudah terdaftar dalam agenda urutan kebutuhannya. Hal ini biasanya sering terjadi pada pembeli yang mempunyai pengahasilan pas-pasan saja. Pembelian yang terjadi bisa juga karena secara mendadak dilakukan ( tidak direncanakan ) misalnya: melewati toko tertentu ingat membutuhkan sabun, buku dan sebagainya atau bisa juga karena tertarik ingin mencoba produk baru, karena etalasenya yang menarik dan lain-lain.

Dalam promosi terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan, pada umumnya ada 4 kegiatan yang biasa dilakukan yaitu:

 

a. Periklanan.

b. Personel selling.

c. Promosi penjualan.

d. Publisitas dan humas.

 

a. Periklanan (advertensi).

Periklanan merupakan salah satu bentuk kcgiatan promosi yang sering dilakukan perusahaan melalui komunikasi non individu dengan sejumlah biaya seperti iklan melalui media masa, perusahaan iklan, lembaga non laba, individu-individu yang membuat poster dan sebagainya.

Periklanan dilakukan untuk memasarkan produk baru, memasuki segmcn pasar yang baru atau yang tidak tcrjangkau oleh salesman maupun personel selling. Periklanan sering dilakukan baik mclaui surat kabar, majalah, radio dan tv pos langsung atau bahkan melalui biro periklanan.

b. Personel selling

Personel selling adalah kegiatan promosi yang dilakukan antar individu yang sering bertemu muka yang ditujukan untuk menciptakan, memperbaiki, menguasai atau mempertahankan hubungan pertukaran yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Proses personel selling adalah scbagai berikut:

 

 

 

c. Promosi Penjualan

Promosi penjualan adalah salah satu bentuk kegiatan promosi dengan menggunakan alat peraga seperti: peragaan, pameran, demonstrasi, hadiah, contoh barang dan sebagainya.

 

d. Publisitas

Publisitas merupakan kegiatan promosi yang hampir sama dengan periklanan yaitu melalui media masa tetapi infonnasi yang diberikan tidak dalam bentuk Man tetapi berupa berita.

Biasanya lembaga yang dipublisitaskan tidak mengeluarkan biaya sedikitpun tetapi bisa merugikan kalau lembaga yang dipublisitaskan diberitakan kejelekannya..

 

2. Pasar

 

2.1. Macam-macam Pasar

Macam-macam pasar pada dasamya dapat digolongkan menjadi 4 bagian yaitu:

     2.1.1. Pasar barang konsumen.

     2.1.2. Pasar barang industri.

     2.1.3. Pasar penjualan.

     2.1.4. Pasar pemerintah.

 

2.1.1. Pasar barang konsumen.

Sebelum kita membahas pasar barang konsumen sebaiknyalah kita bedakan dulu barang konsumen dilihat dari kebiasaan membeli ( yang dimiliki konsumen ):

a. Barang convinience

Barang yang murah dan pemakaiannya mudah dan praktis serta menjadi kebutuhan mutlak yang harus dipenuhinya.

b. Barang Shopping

Barang yang dibutuhkan tetapi tidak selalu tersedia di semua tempat sehingga harus mencari lebih dahulu dan sebelum mengambil keputusan untuk membeli akan dipikirkan dan dipertimbangkan masak-masak. Misalnya: pakaian, peralatan dapur dan sebagainya.

c. Barang spesial:

Barang yang unik dan mempunyai ciri khas dan tempat penjualan tertentu juga sehingga untuk mencapai tempatnya perlu mengorbankan waktu dan uang cukup banyak. Contohnya: mobil dan barang antik.

Pembeli pada pasar barang konsumen adalah individu-individu baik perseorangan maupun berkelompok sehingga dengan melihat pembelinya juga harus mengetahui peranan pembeli di rumahnya, di mana peranan tersebut bisa saja sebagai;

 

1. Initiator   :

Pemberi saran untuk melakukan pembelian.

2. Influencer :

Orang yang mempengaruhi dalam mengambil keputusan

3. Decider

Orang yang memutuskan melakukan pembelian.

4. Purchaser :

Orang yang bertugas melakukan pembelian.

5. User        :

Orang yang memakai produk yang dibeli.

 

Kerumitan dalam pembelian barang konsumen tergantung pada situasi" yang dihadapi pembeli, bisa juga situasi tersebut bersifat tidak rumit sehingga pembeli tidak perlu mempertimbangkan masak-masak dalam memutuskan pembelian. Bisa juga situasi yang dihadapi bersifat agak rumit di mana pembeli biasanya belum mengenal barang yang akan dibeli sehingga memerlukan informasi tambahan yang banyak agar dalam mengam­bil keputusan cepat. Dan situasi yang terakhir yang mungkin dihadapi pembeli adalah situasi yang rumit dimana pembeli benar-benar akan membeli barang yang betul - betul baru sedangkan pasar menyediakan berbagai macam bentuk merk maupun harganya.

    

     2.1.2. Pasar Penjual

Suatu pasar yang terdiri atas individu-individu dan organisasi yang membeli barang­barang dengan maksud untuk dijual lagi supaya bisa menghasilkan laba (tambahan pendapatan). Contoh: Pasar para pedagang besar di mana para pembeli membeli barang untuk dijual secara eceran.

 

     2.1.3. Pasar Pemerintah

Pasar pemerintah adalah pasar di mana terdapat lembaga-lembaga pemerintah seperti departemen, kantor dinas, instansi dan sebagainya.

 

     2.1.4. Pasar Barang Industri

Pasar barang industri adalah individu atau lembaga-lembaga maupun organisasi yang membeli barang di pasar untuk diproses lagi menjadi barang jadi dan kemuadian dijual lagi. Pembeli barang industri biasanya adalah pembeli yang rasional di mana peranan harga maupun kegunaannya sangat memegang peranan penting dan biasanya barang yang dijual sifat permintaan pasamya elastis terhadap harga, sehingga kalau terjadi perubahan harga sedikit saja akan mengakibatkan perubahan volume pembelian yang besar.

Pembelian dalam pasar barang industri biasanya selalu dalam jumlah partai besar

atau kalau tidak demikian juga pembelian tersebut merupakan pembelian peralatan­peralatan yang menunjang keberhasilan proses produksi. Oleh karena itu seperti pada pasar barang konsumen di pasar barang industri juga perlu mengetahui siapa yang mengambil keputusan dalam pembelian, di mana keputusan pembelian di pasar barang industri tergantung pada:

- Rutin tidaknya frekuensi pembelian bahan baku.

- Mendesak atau tidaknya kebutuhan.

- Manfaatnya bagi proses produksi.

- Dana yang diperlukan untuk mecribeli.

Kalau dalam pasar barang konsumen kita mengenal situasi yang dihadapi pembeli akan mempengaruhi keputusan membeli, dekian juga pada pasar barang industri juga mengenal situasi yang dihadapi pembeli yaitu pembelian baru, pembelian ulang maupun pembeliari yang berulang-ulang atau rutin.

 

2.2. Penelitian Pasar

     2.2.1. Pengertian dan kegunaan pasar

Penelitian pasar adalah kegiatan yang berupa pengumpulan dan penganalisaan data atau fakta-fakta yang berhubungan dengan usaha penjualan barang dan jasa. Jadi pada penelitian pasar mempunyai 2 kegiatan yaitu:

a. Pengumpulan data.

b. Penganalisaan data.

Penelitian pasar mempunyai peranan yang sangat penting karena menjadi dasar dalam pengambilan keputusan perusahaan di masa yang akan datang. Mengapa demikian / Karena penelitian pasar merupakan kegiatan yang paling efektif dalam memberikan dan mencari informasi yang dibutuhkan sehingga dengan bekal informasi yang lengkap tentang pasar perusahaan yang bersangkutan akan dapat menguasainya.

Mengapa penelitian pasar harus dilakukan suatu perusahaan / Ada beberapa tujuan pelaksanaan penelitian pasar diantaranya:

1. Kedudukan para pesaing, hal ini sangat penting karena berkaitan erat dng  strategi  atau kebijaksanaan yang akan diambil untuk mengatasinya.

2. Kedudukan perusahaan dalam menguasai market share (bagian pasar yang dikuasai), karena semakin besar market share yang dimiliki perusahaan maka semakin besar pengaruh kebijaksanaan yang diambil perusahaan terhadap pesaing.

3. Untuk mengetahui kebiasaan, perilaku dan daya beli masyarakat sehingga per­usahaan dapat memakai jasa promosi yang mengena dan menarik konsumen.

4. Perusahaan ingin mengetahui potensi pasar dalam menyerap barang-barang yang dijual, dan lain-lain.

 

2.2.2. Tahap-tahapan dalam penelitian pasar

Langkah-langkah penelitian pasar dikelompokkan menjadi 3 kelompok:

a. Tahap persiapan penelitian

    Yaitu tahap di mana perusahaan menentukan permasalahan yang dihadapi, sasaran penelitian, memilih dan menetapkan metode penelitian yang akan dipakai.

b. Tahap pelaksanaan penelitian

Yaitu tahap untuk meneliti secara langsung dalam mencari data sekunder ( yang sudah ada karena peneliti lain sudah melakukan ) maupun data primer ( data yang diperoleh dengan terjun langsung kelapangan untuk mendapat data mentah dari sasaran yang diteliti).

c. Tahap penyelesaian data.

Yaitu tahap di mana seluruh masukan data dianalisa baik secara kualitatif (tanpa bantuan perhitungan matematis) maupun secara kuantitatif untuk kemudian diambil kesimpulan tentang objek penelitian yang dilakukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

PRODUKSI

 

I. PENGERTIAN PRODUKSI

Produksi adalah kegiatan perusahaan untuk menghasilkan barang atau jasa dari bahan­bahan atau sumber-sumber faktor produksi dengan tujuan untuk dijual lagi. Pengertian produksi tersebut memberikan arti lebih jauh lagi mengenai peranan manajer produksi. Tanggung jawab produksi sangat berkaitan erat dan secara langsung memberikan dam­pak yang besar bagi perusahaan. Oleh karena itu tanggung jawab manajer adalah memutuskan keputusan-keputusan penting untuk mengubah sumber-sumber ekonomi menjadi hasil yang dapat dijual.

Kalau diperinci lebih lanjut keputusan manajer produksi ada dua macam:

a. Keputusan yang berhubungan dengan desain dari sistem produksi manufaktur.

b. Keputusan yang berhubungan dengan operasi dan pengendalian sistem tersebut  

    baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Keputusan yang pertama adalah menyangkut penentuan desain produk barang yang sedang diproses, kemudian peralatannya, pembagian tugas, lokasi produksi dan fasilitas yang diperlukan maupun lay out fasilitas tersebut bagaimana agar tercapai proses produksi bisa berlangsung secara efisien.

Kemudian kalau kita menyoroti keputusan yang kedua, menyangkut proses pengolahan barang itu sendiri sampai bagaimana mengendalikan proses pengolahan, persediaan, kualitas maupun biayanya.

Adapun proses produksi menurut pembagian yang macam-macam digolongkan menjadi 4 golongan:

 

1. Sifat produk.

2. Tipe proses produksi ( jangka waktu produksi).

3. Berdasarkan manfaat yang diciptakan.

4. Teknik (sifat ) proses produksi.

 

1.1. Sifat Produk

Sifat produk menjadikan suatu proses produksi dari suatu produk tertentu akan lain dengan sifat produk yang berbeda. Hal ini biasanya dibedakan apakah produk yang akan diproduksikan mencerminkan sifat khusus dari konsumsi pembeli (spesifik) ataukah produk yang akan diproduksi merupakan produk standar yang didasarkan pada keputusan perusahaan.

 

a. Produk spesifik.

Kalau pembeli menginginkan adanya spesitikasi tertentu dari produk yang diinginkan sedangkan jumlahnya hanya terbatas maka proses produksi yang dipakai adalah proses produksi pesanan. Contohnya: Produk meuble, pakaian, sepatu dan sebagainya.

b. Produk standar

Produk standar yang menjadi keputusan perusahaan akan mengakibatkan proses produksi yang dipakai akan berbeda dengan proses produksi untuk produk pesanan, karena perusahaan yang membuat produk standar berarti perusahaan tersebut membuat produk yang ukurannya standar ( sama ) dan jumlahnya sangat banyak karena bertujuan untuk persediaan maupun dikirimkan kepada pembeli atau penyalur. Contohnya: Televisi, almari es, sikat gigi, pakaian bayi dan sebagainya. Kalau proses produksi yang dipilih perusahaan adalah proses produksi standar maka mengharuskan perusahaan untuk menyediakan dana yang besar untuk penyimpanan, penanggungan resiko turunnya harga

 

1.2. Tipe proses produksi

Tipe proses produksi ditinjau dari arus bahan mentah sanipai menjadi barang jadi

dapat dibagi menjadi 2 tipe yaitu:

 

a. Tipe proses produksi terus-menerus (Continuous Process).

Proses produksi yang terus menerus akan terjadi jika perusahaan yang berproduksi membutuhkan waktu yang lama untuk mempersiapkan pcralatan atau mesin dan jenis mesin tersebut hanya bervariasi sedikit saja karena biasanya sudah ditentukan pola dan jenisnya yang khusus untuk menghasilkan produk secara besar-besaran dari bahan mentah sampai dengan menjadi barang jadi dengan pola urutan yang pasti juga dan kegiatan tersebut akan berjalan terus dalam jangka waktu yang lama.

dan kualitas maupun biaya pemcliharaan yang cukup besar.

Tipe proses produksi terus menerus ini biasanya terjadi pada industri-industri yang hanya mempunyai satu shift operasi maupun kegiatan tersebut tidak terhenti dalam jangka waktu yang lama serta barang yang dihasilkan hampir mempunyai bentuk yang hampir sama. Contohnya; perusahaan semen, tekstil, mobil dan se­bagainya.

b. Tipe proses produksi terputus-putus (intermitent).

Pola produksi yang terputus-putus ini terjadi karena sering terhentinya mesin

atau alat produksi untuk menyesuaikan dengan keinginan produk akhir yang akan diciptakan. Tentu saja tidak seluruh proses produksi akan mempunyai proses pro­duksi yang berbeda sama sekali, kadang untuk tiga bagian atau dua bagian proses produksi sebelum menghasilkan barang akhir mempunyai pola urutan yang sama juga. Jadi yang membedakan adalah saat proses produksi dari bahan mentah sampai menjadi produk akhir (hasil proses produksi) selalu mempunyai pola urutan yang berbeda-beda sesuai dengan hasil produk akhir yang diinginkan konsumen.

Tipe ini digunakan pada perusahaan-perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan dari konsumen ( pembeli yang akan membeli ). Misalnya : meubel, pengecoran logam, pakaian dan sebagainya.

 

1.3. Manfaat yang diciptakan

Berdasarkan manfaat yang diciptkan proses produksi bisa dilakukan dengan cara yang berbeda-beda tergantung manfaat yang diciptakan. Berdasarkan hal tersebut diatas, kegiatan atau manfaat dapat dibagi menjadi 5 manfaat yaitu :

manfaat dasar, manfaat bentuk, manfaat waktu, manfaat millik maupun manfaat tempat.

 

a. Manfaat dasar (primary utility)

Manfaat dasar akan terjadi jika kegiatan yang dilakukan perusahaan merupakan kegiatan yang bergerak dalam bidang pengambilan dan penyediaan barang-barang atau hasil-hasil dari sumber yang sudah tersedia oleh alam. Misalnya; perusahaan tambang, perikanan dan lain-lain.

b. Manfaat bentuk (form utility)

Proses produksi yang menciptakan manfaat bentuk adalah meubel. Proses produksi ini terjadi setelah manfaat dasar dilakukan kemudian baru dilakukan proses se­lanjutnya untuk menciptakan manfaat yang lebih baik lagi.

c. Manfaat waktu (time utility)

Manfaat waktu dihubungkan dengan kenaikan nilai barang yang mempunyai selisih waktu misalnya; disimpan di pergudangan (bulog) setelah harga-harga naik maka beras yang tidak habis dalam masa turunnya harga karena waktu berjalan terus menyebabkan nilai beras tersebut bertambah.

d. Manfaat tempat (place utility)

Manfaat tempat dapat kita lihat pada perusahaan transportasi. Perusahaan apakah itu kereta api, kendaraan, truk maupun pesawat udara akan menyebabkan bertambahnya manfaat barang yang dipindahkan tersebut.

     Contoh: hasil-hasil pertanian yang diangkut ke kota.

e. Manfaat milik (Ownership utility)

Manfaat milik adalah usaha untuk memindahkan barang bari hak milik orang yang satu ke orang yang lain. Contohnya: pedagang, toko, dealer, distributor, pengecer dan sebagainya.

 

1.4. Teknik proses produksi

Penggolongan proses produksi menurut teknik atau sifat proses produksi akan menentukan jenis atau bentuk pokok yang dipakai dalam proses produksi. Berdasarkan tekniknya, dapat dibagi menjadi beberapa macam yaitu:

 

a. Proses Ekstraktif

Proses produksi yang dijalankan dengan mengambil langsung dari sumber alarn yang telah tersedia. Misalnya: proses penambangan, perusahaan pcrikanan, per­kebunan dan sebagainya.

b. Proses Analitis

Proses Analitis adalah proses untuk menguraikan atau memisahkan dari suatu bahan mentah tertentu menjadi beberapa macam bcntuk yang mcnyerupai jenis aslinya. Contohnya; Pertamina.

c. Proses Fabrikasi.

Seperti proses analitis tetapi dal.uu nienggunakan alat seperti mcsin, gcrgalinya men­jadikan bentuk baru beberapa macaiu tanpa harus sc_jcnis aslinya. Contohnya; pakaian, proses penibuatan sepatu dan scbagainya.

d. Proses sintesis.

Proses mcngkombinasikan beberapa bahan (pcrscnyawaan /,at) dalam suatu bcntuk produk. Contohnya; perusahaan kimia, obat-obatan, gclas, kaca dan scbagainya.

e. Proses Assembling.

Proses asembling berarti merangkaikan beberapa produk jadi atau sctcngah jadi menjadi produk baru ( barang baru ) tanpa mcrubah bcnluk tisik susunan kimiawi­nya. Contoh: pcrusahaan karoscri mobil, IPTN, pcrusahaan alat listrik dan sebagainya.

 

 

 

2. KEGIATAN PRODUKSI

Kegiatan produksi adalah salah satu bagian dari beberapa kegiatan perusahaan disamping kegiatan personalia, keuangan dan pemasaran. Keempat kegiatan perusahaan tersebut tidak bisa dipisah-pisahkan karena merupakan satu kesatuan yang menjadikan perusahaan berhasil, maju dan berkemibang. Kcgiatan produksi atau fungsi produksi, pelaksanaan maupun pencapaian tujuan bagi produksi mcnjadi tanggung jawab manajer produksi. Pada fungsi produksi di sini, seorang manajer produksi akan mcnghadapi masalah-masalah yang berkaitan dengan perusahaan secara keseluruhan dan harus di­atasinya.

 

Masalah-masalah di bagian produksi diantaranya:

 

1. Perencanaan produksi.

2. Perencanaan fasilitas fisik produksi.

3. Pengendalian produksi.

4. Pengendalian persediaan dan kualitas produksi.

5. Pemeliharaan peralatan.

 

2.1. Perencanaan Produksi

Perencanaan produksi adalah proses kegiatan penelitian dan pengembangan produk baru maupun produk lama yang nanti akan dan telah diproduksi perusahaan. Penelitian ini mengenai produk apa yang digemari, bagaimana kemasannya yang menarik, dan produk apa saja yang disukai, sedangkan kalau pengembangan adalah kegiatan per­usahaan untuk mengembangkan produk lama agar lebih menarik lagi dan mempunyai kegunaan yang bertambah dari produk semula. Tujuan perencanaan produk berarti secara garis besar merencanakan bagaimana tindakan yang akan dilakukan untuk memproduksikan produk baru yang laku dijual dan bagaimana kalau produk lama sudah mencapai tahap kejenuhan sehingga perlu di kaji lebih lanjut agar laku dijual di pasar.

Perencanaan produk dilakukan di 2 tempat yaitu perencanaan produk yang dilakukan

dengan meneliti lapangan ( survai pasar dan konsumen ) baru kemudian perencanaan produk tersebut dimatangkan di laboratorium. Dengan meneliti lapangan diharapkan perusahaan sudah menggunakan secara kasar tentang keadaan pasar, segmen pasar, manfaat produk, bentuknya, kualitas, wama yang disukai konsumen. Kemudian dari data-data yang diperoleh di lapangan diteliti dan dikembangkan dilaboratorium perusahaan sehingga tercipta produk baru.

 

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan produk adalah sebagai berikut:

 

1. Manfaat produk bagi konsumen.

2. Permintaan pasar.

3. Potensi pasar.

4. Kemungkinan pengembangan produk di masa yang akan datang.

5. Kekuatan persaingan, dan sebagainya.

 

Adapun keputusan-keputusan yang menyangkut kegiatan produksi berkaitan dengan masalah-masalah pokok yang meliputi:

- Jenis barang yang akan dibuat, misalnya; desain, metode pembuatan, pembuatan ba­rang.

- Jumlah barang yang akan dibuat.

- Penentuan peralatan yang akan dipakai.

 

2.2. Perencanaan Fasilitas Fisik Produksi

Perencanaan fasilitas fisik produk adalah merupakan suatu proses integrasi di mana semua aspek produktifitas harus dipertimbangkan dengan masak. Fasilitas fisik per­usahaan misalnya; gedung, tempat bekerja, mesin dan sebagainya. Fasilitas fisik perusahaan tersebut termasuk perencanaan fasilitas fisik perusahaan.

 

Kalau diperinci lebih lanjut, aspek-aspek perencanaan fasilitas fisik perusahaan terdiri dari;

a. Penentuan lokasi perusahaan.

b. Bangunan.

c. Perencanaan tata letak fasilitas produk

d. Perencanaan lingkungan kerja.

 

a. Penentuan lokasi perusahaan

Penentuan lokasi perusahaan adalah kegiatan perusahaan untuk menentukan lokasi perusahaan dimana kegiatan kerja atau proses produksi akan dilakukan. Lokasi per­usahaan mempunyai dampak penting bagi pencapaian laba perusahaan, di mana kalau penentuan lokasi perusahaan benar-benar strategis maka dalam arti ekonomis berrati lokasi perusahaan tersebut dapat meningkatkan efisiensi perusahaan dan biaya produksi per unitnya akan kecil dan harga jual produk tersebut dapat bersaing di pasar.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penentuan lokasi perusahaan yang harus diperhatikan pengelola perusahaan adalah sebagai berikut;

1. Letak sumber bahan mentah.

Merupakan faktor penting yang berkaitan dengan perhitungan biaya produksi. Kalau letak sumber bahan mentah jauh menyebabkan biaya produksi tinggi maka letak pabrik lebih baik dekat lokasi bahan mentah.

 

2. Tenaga Kerja.

Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang secara langsung memberikan sumbangan baik fisik maupun non fisik terhadap proses hasil produksi. Kalau tenaga kerja yang dibutuhkan perusahaan merupakan tenaga kerja yang lebih menguta­makan skill dan keahlian yang baik terhadap peralatan modem maka berarti peru­sahaan sebaiknya berada di daerah perkotaan.

 

3. Pasar.

Pasar juga merupakan salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan karena menyangkut besar kecilnya pengeluaran dana untuk biaya transportasi dari lokasi pabrik sampai di tangan konsumen. Jenis transportasi yang digunakan apakah lewat darat, udara, maupun laut tergantung pada transportasi yang mana yang paling menguntungkan perusahaan.

 

4. Sikap masyarakat sctcmpat.

5. Biaya tanah dan perpajakan, dan scbagainya.

 

b. Bangunan

Bangunan merupakan tcmpat untuk melindungi bcrlangsungnya proscs produksi agar berjalan dengan lancar baik perlindungan terhadap tenaga kerja maupun jenis produksi yang dihasilkan pcnisahaan.

Dengan adanya bangunan dapat mengurangi kemacetan dalam proses produksi, menghindarkan yang kurang pcnting, mcmpcriinggi cfcktifitas kcrja karyawan karcna karyawan merasa aman dan maupun gangguan pencurian.

Dalam pcrcncanaaan bangunan pcrlu mcmpcrtimbangkan faktor-faktor scbagai berikut:

1. Jumlah atau luas bangunan.

2. Bentuk bangunan.

3. Jenis bangunan.

4. Model bangunan.

5. Kemungkinan pcrluasan bangunan.

6. Areal taman dan parkir.

7. Fasilitas bagikaryawan; wc, karnar mandi dan kantin.

 

c. Perencanaan tata letak fasilitas produksi

Perencanaan tata letak fasilitas produksi atau lay out fasilitas produksi mcrupal:an salah satu kegiatan perencanaan lokasi pabrik yang tidak dapat dipisah-pisahkan karcna perencanaan bangunan juga harus secara sekaligus mempertimbangkan lay out fasilitas produksi. Dengan mengambil keputusan lay out fasilitas produksi dcngan baik maka tujuan arah mencapai produktilitas yang tinggi dengan mengeluarkan biaya yang rendah bisa tercapai.

Secara garis besar pengertian lay out fasilitas pabrik adalah sebagai berikut:

Lay out fasilitas produksi adalah pcrcncanaan sccara optimum tentang pengatur-an dan penempatan mesin-mesin, peralatan pabrik,tempat kerja, tempat penyimpan-an dan kegiatan-kegiatan lain dalam proses produksi bersama-sama dengan perencanaan dan penentuan jenis dan bentuk bangunan gedung perusahaan (pabrik).

Lalu bagaimana caranya agar layout fasilitas produksi benar-benar efisien ? Untuk mencapainya maka perusahaan harus mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut:

     

1. Jarak angkut yang minimum tersebut meliputi jarak angkut dari bahan mentah, bahan setengah jadi dan barang jadi yang dipindahkan dari tempat terakhir proses produksi ke tempat penyimpanan ( pergudangan ) dan dari tempat penyimpanan sampai ke pasar. Jarak dari bahan mentah sampai tiba di pasar harus benar-benar seminimum mungkin.

 2. Fleksibelitas ruangan dan layout.

Berhubung dengan perubahan teknologi yang terjadi dengan adanya perubahan teknologi yang tidak terlalu drastis seharusnya letak ruangan dan layoutnya dapat diatur kembali sehingga perniintaan pasar yang berubah sedikit dapat diatasi.

3. Kemungkianan perluasan di waktu yang akan datang.

Untuk menjaga kemungkinan terjadinya ekspansi perusahaan yang secara sekaligus perlu memperluas usaha, pabrik tanpa terkecuali perluasan lay out fasilitas produksi.

4. Pemaksimumam ruangan dan layout.

Pembangunan yang telah dilaksanakan berdasarkan perencanaan bangunan maupun layoutnya harus benar-benar mencerminkan penggunaan ruangan yang maksimal sehingga tidak terdapat mesin-mesin yang menganggur maupun ruangan yang sudah terpakai.

5. Keselamatan barang yang diangkut bahan mentah, bahan penolong dan barang jadi.    Jenis atau macam layout dibagi menjadi tiga :

a. Tata letak produks/garis (Product/Line Lay Out)

      Produk lay out adalah tata letak mesin-mesin atau pengaturan mesin maupun peralatan produksi disusun berdasarkan urutan proses produksi yang diperluakan bagi produk yang dibuat. Lay out ini biasanya digunakan untuk perusahaan yang menghasilkan atau memproduksi satu jenis produk saja sehingga urutan proses produk akan berlangsung secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama, sehingga jarang merubah susunan mesin dan peralatannya.

      Produk lay out ini akan berhasil secara teknis dan ekonomis pada perusahaan yang memproduksi satu jenis saja jika :

      - Volume produk sesuai dengan kapasitas pemakaian mesin dan peralatan.

      - Permintaan barang yang diproduksi relatif stabil.

      - Penyediaan bahan mentah cukup teratur, dsb.

 

b. Tata letak proses atau fungsional (Proses/Fungsional Lay Out)

      Tata letak proses adalah tata letak penempatan mesin-mesin dan peralatan produksi yang mempunyai fungsi sama dikelompokkan ke dalam ruangan tertentu. Lay out ini sering dipakai pada perusahaan yang membuat produk lebih dari satu jenis yang mempunyai bentuk, kualitas maupun jumlah yang berbeda dan biasanya tergantung pada pesanan konsumen.

 

c. Tata letak kelompok ( Group Lay Out )

      Tata letak kelompok adalah lay out kelompok dengan jalan menempatkan mesin­mesin dan peralatan produksi dipisahkan tempatnya serta sekelompok mesin yang membuat seperangkat komponen yang memerlukan pemrosesan yang sama.

 

Jadi lay out ini merupakan kombinasi antara a dan b di mana lay out bentuk ini biasa dipakai perusahaan besar yang memproduksi beberapa jenis barang yang jumlahnya sangat banyak.

 

d. Perencanaan Lingkungan Kerja

Perencanaan lingkungan kerja adalah perencanaan terhadap pengaturan berbagai fasilitas pelayanan, masalah kondisi kerja dan hubungan kerja sedemikian rupa sehingga mendukung peningkatan produktifitas kerja perusahaan secara keseluruhan.

Fasilitas pelayanan bisa dengan cara menyediakan ruangan untuk kantin bagi mereka pada jam istirahat ingin makan dan minum, pelayanan kesehatan dengan jalan dalam jangka waktu tertentu perusahaan menyediakan dokter dari luar per­usahaan yang mengelola karyawan secara part timer (tidak tetap ). Dan yang penting jangan sampai ketinggalan untuk menyediakan fasilitas mushola bagi yang beragama Islam demikian juga tempat berwudhu beserta kamar kecil maupun kamar mandi.

Kondisi kerja juga mempengaruhi tingkat produktifitas karyawan. Oleh karena itu kondisi kerja yang wajar perlu dipenuhi misalnya: penerangan, suhu ruangan, warna dinding, keselamatan kerja, dll.

Aspek yang terakhir adalah hubungan antar sesama karyawan ini juga mem­pengaruhi tingkat produktifitas karyawan. Karena hubungan antar sesama karywan merupakan motivasi untuk bekerja sama secara suka rela dan terkoordinir dengan baik dapat mendukung berhasilnya tingkat produktifitas karyawan yang mernuaskan. Dari sinilah pimpinan harus benar-benar tahu saat kapan memotivasi dan mendorong mereka agar hubungan antar sesama karyawan yang terjalin dapat menciptakan iklim kerja yang harmonis dan sehat sesuai dengan keinginan seluruh karyawan perusahaan.

 

2.3. Pengendalian Produksi

Pengendalian produksi adalah berbagai kegiatan dan metoda yang digunakan oleh manajemen perusahaan untuk mengelola, mengatur, mengkoordinir dan mengarahkan proses produksi ( peralatan, bahan baku, mesin dan tenaga kerja ) ke dalam suatu arus aliran yang memberikan hasil dengan jumlah biaya yang seminimum mungkin dan waktu yang secepat mungkin.

Pengendalian produksi yang dilaksanakan pada perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain akan berbeda-beda tergantung pada sistern dan kebijaksanaan perusahaan yang digunakan. Pengendalian produksi dapat dilakukan:

 

a. Order Control : Perusahaan yang beroperasi berdasarkan pesanan dari konsumen sehingga kegiatan operasionalnya juga tergantung pada pesanan tsb.

 

b. Flow control Perusahaan yang beroperasi untuk menghasilkan produk standar sehingga sebagian produk merupakan produk untuk persediaan dalam jumlah yang besar.

           Pengendalian keduanya bertujuan sama bagaimana jangka waktu arus material apakah sudah sesuai dengan yang direncanakan demikian juga bagaimana transportasi dari pabrik ( proses produksi ) ke gudang dan dari gudang ke tempat penyimpanan.

 

Tahap dalam pengendalian produksi (fungsinya):

a. Production Forecasting.

Production forecasting adalah peramalan produksi untuk mengetahui jumlah dan manfaat produksi yang akan dibuat di masa yang akan datang, sehingga kalau terjadi penyimpangan akan cepat diadakan penyesuaian produksi di masa yang akan datang.

Dengan melaksanakan peramalan produksi, perusahaan dapat menyusun anggaran operasionalnya untuk pedoman kerja, penggunaan kapasitas produksi seoptimal mungkin, menstabilisasi kesempatan kerja karena terdapatnya kestabilan dan kepastian jumlah produksi di masa yang akan datang.

b. Routing.

Routing adalah kegiatan untuk menentukan urut-urutan proses dan penggunaan alat produksinya dari bahan mentah sampai menjadi produk akhir, sehingga sebelum produksi dimulai masalah sudah tercantum pada rout sheet.

c. Schedulling.

Schedulling adalah kegiatan untuk membuat jadwal proses produksi sebagai satu kesatuan dari awal proses sampai selesainya proses produksi. Schedulling ini dilaksanakan untuk mengetahui berapa waktu yang dibutuhkan setiap tahap pemrosesan sesuai dengan urut-urutan routenya. Oleh karena itu untuk membantu keberhasilan tahap ini lebih baik melakukan "time and motion study" sehingga dapat ditentukan standar hasil kerjanya.

d. Dipatching.

Dipatching adalah suatu proses untuk pemberian perintah untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan routing dan schedulling yang dibuat.

e. Follow up.

Follow up adalah kegiatan untuk menghilangkan terjadinya penundaan/ keterlambatan kerja dan mendorong terkoordinasi pelaksanaan kerja.

 

2.4. Pengendalian Persediaan dan Kualitas

 

2.4.1. Pengendalian Persediaan bahan baku

Bahan baku merupakan salah satu faktor pembentuk terjadinya barang jadi sehingga segala sesuatu yang menyangkut bahan baku harus benar-benar diperhatikan. Masalah tersebut diantaranya;

- Bagaimana jumlah bahan baku yang tersedia tidak kurang karena akan mengganggu jalannya proses produksi.

- Bagaimana jumlah bahan baku agar jangan terlalu berlebih karena merupakan pem­borosan kalau terlalu lama.

- Bagaimana agar biaya ekstra yang digunakan untuk memesan bahan baku yang kurang (karena mengejar target jumlah produksi dan kapasitas mesin yang terpakai) tidak terlalu merugiakan dan sebagainya.

Dengan adanya pengendalian bahan baku maka perusahaan akan berusaha untuk menyediakan bahan baku yang diperlukan dalam proses produksi sedemikian rupa agar berjalan dengan lancar tanpa terjadi kekurangan persediaan atau kelebihan persediaan.

Ada suatu cara untuk menentukan berapa sebenamya jumlah bahan baku yang perlu disediakan perusahaan dengan biaya yang paling minimum ( dalam arti paling meng­untungkan perusahaan ). Caranya adalah menggunakan analisis EOQ ( Economical Order Quantity ). Dengan kata lain perusahaan akan mempunyai persediaan yang paling menguntungkan jika melakukan pemesanan yang ekonomis.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi EOQ adalah sebagai berikut;

- Jumlah kebutuhan bahan baku per tahun (B).

- Biaya pemesanan (BP)

- Biaya penyimpanan (BS)

- Harga bahan baku (H)

 

 

 

 

Kalau dijadikan dalam suatu rumus EOQ (Jumlah pemesanan ekonomis) adalah:

 

 

 

2.4.2. Pengendalian Kualitas (Quality Control)

Pengendalian kualitas merupakan suatu proses untuk menentukan barang-barang yang rusak dan diusahakan dikurangi serta mempertahankan barang-barang yang sudah baik kemudian mengontrol agar hasil produksi di waktu yang akan datang tidak lagi mengalami penuruanan kualitas atau kerusakan.

 

Untuk menentukan apakah barang tersebut rusak atau lebih baik mutunya, perusahaan biasanya menentukan produk standar. Dengan demikian pengendaliaan kualitas itu dilakukan sejak awalproses, Barang dalam Proses sampai barang jadi sehingga sejak awal perusahaan dapat menelusuri pada tahap proses yang mana yang menyebabkan terjadinya kerusakan barang. Jika pengendalian proses baik maka perusahaan akan beruntung karena kegiatan mempunyai andil dalam meminimumkan biaya proses produksi secara keseluruhan.

Pengendalian kualitas baik untuk proses produksi yang berlangsung secara terus­menerus ataupun proses produksi yang terputus-putus relatif sama, di mana di dalamnya mempunyai kegiatan sebagai berikut:

- Menentukan standar kualitas baik dalam hal ukuran, daya tahan, warna, bentuk,harga dsb dengan memakai peralatan yang standar.

- Mencari pemeriksa atau controler yang mempunyai kecakapan yang dibutuhkan baik mengenai pemakaian peralatannya maupun pemeliharaannya.

- Tujuan pengendalian kualitas adalah untuk meminimumkan biaya proses produksi sehingga dananya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan yang lebih produktif.

 

2.5. Pengendaliaan Biaya dan Pemeliharaan

 

2.5.1. Pengendalian Biaya Produksi

Dengan meneliti lebih cermat biaya-biaya apa saja yang dibutuhkan dalam proses produksi maka dapat dianalisa berapa volume penjualan yang terjual di perusahaan tersebut beserta pendapatan yang diperoleh dari hasil penjualan tersebut.

Cara yang digunakan untuk menganalisis seluruh biaya yang diperlukan dan berapa

pendapatan yang diterima perusahaan beserta hasil keuntungan yang diperoleh perusaha­an dapat dipakai rumus sebagai berikut:

Dimana;

BEP (Q) : jumlah unit yang dihasilkan (hasil pendapatan perusahaan hanya cukup untuk menutup biaya keseluruhan)

FC       : Biaya tetap ( Fixed Cost)

V         : Variabel Cost ( biaya variabel)

P          :    Harga produk

 

Biaya tetap adalah biaya yang besar kecilnya tidak terpengaruh oleh jumlah barang yang diproduksikan dan dapat berubah persatuan dalam batas range tertentu. Contoh; Gaji tanaga kerja, biaya pemeliharaan gedung, depresiasi, bunga, sewa dll.

Biaya variabel adalah biaya yang besar kecilnya tergantung oleh jumlah barang yang diproduksikan perusahaan, secara keseluruhan jumlah totalnya berubah tetapi per satuan unitnya tetap. Contoh; biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya bahan penolong dsb.

Keadaan Break Even Point (BEP) dapat digambarkan sebagai berikut:

 

 

 

2.5.2. Pemeliharaan dan penggantian fasilitas produksi.

Pemeliharaan dan penggantian fasilitas produksi dilakukan dalam rangka memper­tahankan tingkat produktivitas mesin dan peralatan lainnya. Untuk menunjang kegiatan ini perlu disusun jadwal rutin mengenai saat pemeliharaan sesuai dengan kemampuan tenaga kerja bagian servis tetapi jangan sampai baru diperiksa kalau sudah mengalami kerusakan berat. Jadi pemeliharaan ini merupakan usaha pencegahan ( prefentif ), jangan sampai suatu mesin sudah rusak berat pada saat dilakukan pemeriksaan.

Pemeliharaan dan penggantian fasilitas produksi membutuhkan dana yang besar karena biasanya menyangkut mesin dan peralatan operasi kegiatan perusahaan di mana dana yang diinvestasikan tersebut berjumlah besar dan jangka waktu pengembaliannya relatif lama.

Kapan suatu mesin perlu diganti atau hanya cukup dipelihara saja, ini biasanya ter­gantung pada kerusakannya dan hasil kualitas produksi yang diproduksikan apakah mempunyai standar kualitas yang sama atau tidak serta bagaimana dilihat dari sudut untung ruginya (secara ekonomis) apakah lebih menguntungkan diperbaiki saja atau harus diganti mesin / peralatan yang baru.

Jadi kegiatan perusahaan ini sangat tergantung pada pertimbangan-pertimbangan:

- Dana yang tersedia pada perusahaan.

- Kebijaksanaan yang diambil perusahaan.

- Standar kualitas produk.

- Kemampuan tenaga kerja bagian servis, dsb.